Alih Fungsi Lahan Tanpa Perencanaan Berimbas Kerusakan Lingkungan

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

LAMPUNG — Penggunaan perbukitan di wilayah Lampung Selatan (Lamsel) jadi lahan pertanian berimbas kerusakan lingkungan. Imbas hujan deras sejumlah pohon jenis tekik dan mahoni di Dusun Penegolan, Desa Hatta Kecamatan Bakauheni tumbang dan menyebabkan longsor. Diduga Penggunaan bukit jadi lahan penanaman jagung jadi penyebab.

Wongso, warga Desa Totoharjo Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan, Rabu (13/5/2020). Foto: Henk Widi

Husin, salah satu pengendara menyebutkan, sejumlah titik di tepi Jalinsum rawan longsor, di antaranya di dekat kantor kecamatan Bakauheni. Pengendara harus berhati hati untuk melintas agar terhindar dari longsor dan pohon tumbang.

Husin menyebut, alih fungsi lahan pada kawasan perbukitan sudah umum di wilayah tersebut. Dominan warga memanfaatkan untuk menanam jagung dan tanaman cepat panen lainnya. Tanpa ada penahan pada lahan miring potensi longsor mengancam.

“Sebagian lahan di sepanjang perbukitan di tepi Jalinsum merupakan milik warga setempat, sehingga dimanfaatkan untuk lahan pertanian jagung yang memiliki perakaran serabut, sehingga saat hujan rawan longsor,” cetus Husin salah satu warga saat ditemui Cendana News, Rabu (13/5/2020)

Husin menyebut peristiwa pohon tumbang disertai longsor kerap terjadi, terutama saat penghujan. Penebangan sejumlah pohon dilakukan petani agar tidak menaungi tanaman jagung, imbasnya pohon penahan longsor berkurang.

Wongso, salah satu warga di Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni menyebut justru memanfaatkan lahan miring untuk menanam tanaman produktif yang ditanam secara tumpangsari. Pola pemanfaatan perbukitan menghadap Selat Sunda menurutnya dilakukan dengan sistem terasering.

“Sistem terasering dilakukan dengan membuat lahan berundak undak agar laju air tidak menggerus tanah di perbukitan,” bebernya.

Sejumlah titik yang telah longsor menurutnya telah direboisasi dengan sejumlah tanaman kayu keras. Kayu jenis sengon laut disebutnya bisa dipanen setiap enam tahun untuk bahan bangunan.

Pohon sengon laut yang digunakan sebagai tanaman penahan longsor menurutnya memiliki nilai ekonomis. Sebab sebatang pohon sengon berukuran besar memiliki harga sekitar Rp500.000 untuk ukuran besar. Sebagian pengepul akan membeli pohon sebagai bahan untuk pengecoran dan bahan palet. Sistem tebang pilih dilakukan dengan penanaman bibit baru.

Tejo Agung, penanggungjawab pembibitan pada Persemaian Permanen milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengaku bibit disediakan gratis. Sebanyak 2,5 juta bibit di persemaian permanen Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang digunakan untuk reboisasi.

“Manfaatkan kondisi cuaca untuk menanam berbagai jenis bibit tanaman kayu keras agar mencegah longsor,” cetusnya.

Pencegahan longsor menurutnya bisa dilakukan oleh masyarakat dengan menanam lahan miring. Namun faktor ekonomis membuat warga memilih menanam sejumlah komoditas pertanian.

Selain cepat panen komoditas pertanian jenis jagung jadi pilihan. Namun dengan adanya bibit tanaman produktif jenis jengkol, petai, kemiri bisa meminimalisir kerusakan lingkungan.

Lihat juga...