10 Santri Asal Jateng di Sikka Reaktif Covid-19

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Pemeriksaan rapid test yang dilakukan terhadap 19 pelaku perjalanan, terdiri dari 18 santri asal pondok pesantren di Gresik, Magetan dan Magelang, Jawa Tengah, yang menetap di pulau Parumaan, Desa Parumaan, Kecamatan Alok Timur, dan seorang warga Desa Natakoli, Kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka provinsi Nusa Tenggara Timur, yang tiba dari Kalimantan, 10 di antaranya reaktif.

Rapid test dilakukan  Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sikka, pada Senin (11/5/2020), terhadap 19 orang tersebut yang sebelumnya ditempatkan di bekas kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sikka.

“Sepuluh orang langsung dipisahkan.Yang jelas, 10 santri langsung dipisahkan dari 9 lainnya,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sikka, Petrus Herlemus, Selasa (12/5/2020).

Mengenai hasil tes swab, kata Petrus, sampel swab asal Kabupaten Sikka hari ini, Selasa (12/5/2020), sedang menjalani pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) di laboratorium RSUD Prof. W.Z. Johannes Kupang.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sikka, NTT di kantor Dinas Kesehatan, Selasa (12/5/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Dirinya berharap, hasil swab dari Kabupaten Sikka tidak ada yang positif. Namun, pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi bila ada warga yang positif Covid-19.

“Kita berharap agar 71 sampel swab yang dikirim untuk diperiksa tidak ada yang positif. Tapi, pemeritntah telah menyiapkan langkah antisipasi bila hasil swab yang dikirim positif,” terangnya.

Sepuluh orang tersebut, lanjut Petrus, telah dipindahkan Senin (11/5/2020) sore ke lantai 1 kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, untuk bergabung dengan 46 warga lainnya dari Klaster Lambelu yang hasil rapid test-nya juga reaktif.

Sementara 9 santri lainnya tetap berada di lokasi karantina terpusat, supaya tetap dipantau dan akan dilakukan rapid test ke dua untuk dipastikan mereka benar-benar terbebas dari virus Corona.

Kepala Desa Parumaan, Muhdir, kepada media mengatakan setelah diketahui adanya 10 santri warga desanya yang hasil rapid test reaktif, orang tua para santri meneleponnya dan menanyakani.

Muhdir menjelaskan, bahwa para santri baru menjalani rapid test dan belum menjalani pemeriksaan swab untuk memastikan apakah benar positif atau negatif Covid-19.

“Saya menyampaikan, bahwa anak mereka baru menjalani pemeriksaan rapid test belum swab, sehingga belum bisa dipastikan positif Covid-19. Kita percaya dan menyerahkan penanganannya kepada pemerintah,” ungkapnya.

Muhdir juga meyakini 18 santri dari desanya tersebut kondisi kesehatannya baik-baik saja, karena mereka semua telah berada di Parumaan selama sebulan lebih dan telah menjalani karantina mandiri selama 14 hari di rumahnya masing-masing.

Data yang diperoleh Cendana News di lokasi karantina mandiri menyebutkan, dari 56 pelaku perjalanaan yang hasil rapid test reaktif dan menempati lantai 1 lokasi karantina terpusat di bekas kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, sebanyak 46 orang dari klaster Lambelu dan 10 santri asal pulau Jawa.

Sementara di lokasi gedung Sikka Convention Center (SCC) yang berada persis di sebelah barat lokasi karantina bekas kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, ditampung 21 pelaku perjalanan klaster Gowa dan 2 santri dari Magetan.

Sebanyak 69 orang di dua lokasi ini telah dikirim sampel swabnya ke Kupang, ditambah seorang kapten kapal kontainer Meratus dan satu orang lainnya dari klaster Lambelu yang hasil swab pertama negatif, namun saat rapid test lagi hasilnya reaktif.

Lihat juga...