Uskup Tanjungkarang Ingatkan Umat Katolik Memaknai Kematian

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Uskup Keuskupan Tanjungkarang, Lampung, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, mengajak umat merenungkan makna kematian.

Renungan yang disampaikan bapa uskup pada ibadah Jumat Agung mengajak umat Katolik memaknai kematian yang walau menakutkan adalah perayaan iman kemenangan akan kehidupan.

Bapa uskup menegaskan kematian sesungguhnya merupakan satu-satunya kemungkinan yang terjadi setelah manusia dilahirkan.

Sejak dilahirkan manusia menuju pada kematian dan tidak ada seorang pun bisa hidup selamanya. Bertahan hidup selamanya justru merupakan penderitaan sehingga kematian justru akan membebaskan. Bagi sejumlah orang kematian bahkan menjadi sebuah tujuan dan kerinduan.

Kematian disebutnya bisa terjadi kapan pun disebabkan oleh penyakit atau peristiwa apa pun. Manusia tidak bisa mengetahui kapan waktu kematian akan menghampiri.

Cara dan bagaimana manusia mati bahkan kerap tidak bisa diketahui. Meski demikian setiap orang dalam sisi kemanusiaan akan mengalami ketakutan kematian.

“Dalam ketakutan dan kesedihan tersebut manusia tetap harus berani melayat, mengantarkan orang ke kubur dan mendoakan, kita takut akan kematian namun tetap memiliki harapan seperti Kristus yang akan dibangkitkan Allah,” ujar Mgr Yohanes Harun Yuwono dalam renungan Jumat Agung via live streaming, Jumat (10/4/2020).

Menghayati kematian dalam Gereja Katolik disebut uskup Tanjungkarang itu bukan kedukaan. Simbol warna liturgi saat Jumat Agung ketika Yesus Kristus wafat menggunakan warna merah bukan hitam.

Warna merah dimaknai Gereja sebagai kemenangan dan kerap dipakai dalam warna liturgi para kardinal. Sejak Minggu Palma, peringatan Martir merah menjadi warna kejayaan, martabat yang agung.

Saat Jumat Agung umat Katolik meneladani sikap Yesus yang rela mati demi manusia. Kristus memberikan hidup terus menerus bagi manusia dan tetap teguh mengimani Yesus.

Sebab Yesus adalah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan. Yesus yang menyembuhkan juga diyakini bisa menyembuhkan orang yang terpapar Covid-19.

“Mari hidup dengan mentalitas yang positif dan benar sembari mendoakan agar Covid-19 segera berakhir, berdoa bagi yang meninggal karena virus tersebut, dan bagi tenaga medis serta ilmuwan,” cetusnya.

Rangkaian liturgi Jumat Agung yang dilakukan uskup Tanjungkarang diikuti sejumlah imam. Berbeda dengan perayaan pada Jumat Agung di gereja yang dibawakan oleh umat melalui drama penyaliban, liturgi hanya dibacakan kisah sengsara penyaliban Yesus (Passio).

Liturgi penghormatan salib yang kerap dilakukan oleh umat ditiadakan dan penghormatan salib dilakukan pada rumah masing-masing.

Yohana, umat Unit Pastoral Bakauheni Lampung Selatan mengaku mengikuti ibadah Jumat Agung secara live streaming. Keputusan gereja Katolik Lampung meniadakan kegiatan Gereja dilakukan sejak akhir Maret hingga 30 April mendatang. Meski demikian dengan fasilitas yang ada ia masih tetap bisa mengikuti Jumat Agung.

Penyalaan lilin dilakukan oleh Yohana untuk mengikuti ibadah Jumat Agung dari rumah, Jumat (10/4/2020) – Foto: Henk Widi

“Saat Jumat Agung kami sekeluarga ibadah dari rumah dan tetap bisa melakukan penghormatan salib,” cetusnya.

Pada Jumat Agung, Yohana menyebut tetap menjalankan puasa dan wajib. Masa Pekan Suci yang dilakukan dengan perenungan menjadi kesempatan berkumpul bersama keluarga.

Hingga Sabtu Suci dan Minggu Paskah ia dan keluarga hanya bisa mengikuti ibadah dengan memanfaatkan live streaming dan menerima berkat dari bapa uskup secara rohani tanpa hadir di gereja seperti tahun sebelumnya.

Lihat juga...