Ratusan Hotel di Jawa Timur, Tutup

Editor: Koko Triarko

MALANG – Ratusan hotel di Jawa Timur terpaksa harus tutup akibat menurunnya tingkat hunian atau okupansi yang sangat drastis selama masa pandemi Covid-19.

“Secara keseluruhan, tingkat hunian sudah sangat menurun mulai bulan Maret. Bahkan, memasuki bulan April, okupansi sudah berada di bawah 10 persen sehingga menyebabkan lebih dari 180 hotel memilih untuk tutup sementara waktu,” jelas ketua Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur, Dwi Cahyono, saat dihubungi via sambungan telepon, Selasa (28/4/2020).

Ketua Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia Jawa Timur, Dwi Cahyono, saat ditemui beberapa waktu yang lalu. –Dok: CDN

Dwi mencontohkan, di Malang saat ini sudah ada beberapa hotel yang menyatakan tutup. Bahkan, di kota Batu semua hotel sekarang sudah tutup.

Ada pun hotel-hotel di Malang yang memilih untuk tutup sementara di antaranya El Hotel, Shanaya Hotel, Savana, Gajahmada Graha, Amaris, Ollino, THE 1O1 Malang, Kertanegara Guest House, Pelangi, Atria, dan Shalimar. Sedangkan di kota Batu, di antaranya El Royal Hotel, Kampung Lumbung, Pohon Inn, Singhasari, Radho Hotel, Samara, Amarta Hills.

Namun demikian, menurut Dwi, masih ada beberapa hotel yang memilih untuk tetap buka dengan merumahkan 50 persen karyawannya.

“Hampir semua hotel yang tetap buka, mereka menawarkan paket Isolasi Mandiri sebagai salah satu upaya untuk menyambung hidup, meskipun pada kenyataannya tetap tidak bisa menutup biaya operasional. Harganya mulai Rp3 juta untuk dua minggu sampai Rp3 juta untuk menginap selama satu bulan,” terangnya.

Paket Isolasi Mandiri ini ditujukan bagi masyarakat yang sudah bosan berada di rumah, bisa diganti dengan tetap tinggal di hotel dengan biaya yang sangat murah.

Upaya lainnya dengan menyediakan menu-menu baru food and baverage untuk kemudia dijual dengan konsep pesan antar atau delivery order.

“Sebenarnya yang kami pikirkan itu bagaimana agar para karyawan tidak sampai di-PHK. Jadi, istilahnya mereka cuma dirumahkan sementara, nanti setelah kondisinya normal mereka dipanggil kembali untuk bekerja,” ungkapnya.

Karyawan yang dirumahkan ini ada yang tidak dibayar, ada yang dibayar 50 persen, ada juga yang dibayar pokoknya saja, tapi ada juga perusahaan yang tetap membayar penuh karyawannya, tergantung kondisi perusahaan masing-masing.

Disampaikan Dwi, para pengusaha hotel ini sebenarnya kekuatannya hanya sampai bulan Juni. Tapi, setelah itu kalau kondisinya masih sama seperti sekarang, mungkin akan banyak PHK, karena pihak hotel sendiri sudah tidak bisa lagi membayar biaya operasional maupun gaji karyawan.

“Ini kondisi yang tidak kami inginkan,” akunya.

Sementara itu, salah satu hotel yang memutuskan bertahan untuk tetap buka di tengah pandemi Covid-19, yakni Whiz Prime Hotel, dengan menawarkan paket promo Isolasi Mandiri.

General Manager Whiz Prime Hotel Malang, Azis Sismono, mengatakan, pihaknya sudah mulai meluncurkan paket Isolasi Mandiri atau Work From Hotel sejak 13 April 2020, dengan biaya Rp3 juta untuk 14 hari.

“Dari 10 lantai yang ada, saat ini hanya tiga lantai yang beroperasi. Satu lantai untuk umum dan dua lantai untuk paket Isolasi Mandiri,” ucapnya.

Menurutnya, dengan diberlakukannya paket Isolasi Mandiri mampu menaikkan tingkat okupansi.

“Sejak diluncurkan promo paket Isolasi Mandiri, bisa mendongkrak okupansi hingga 15 persen yang sebelumnya hanya 10 persen,” pungkasnya.

Lihat juga...