Operator Reaktor BATAN Tak Kenal WFH

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

JAKARTA — Penerapan Work From Home (WFH) selama masa paparan COVID 19, tidak berlaku bagi para operator reaktor serba guna. Karena, mereka harus tetap memastikan reaktor bekerja dengan aman dan selamat.

Operator Reaktor Serba Guna GA Siwabessy BATAN Sukiyanto, saat bertugas, Rabu (8/4/2020) – Foto Ranny Supusepa

Kepala Pusat Reaktor Serba Guna (PRSG) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Yusi Eko Yulianto menyatakan, pemberlakuan WFH di BATAN sudah sejak tanggal 16 Maret 2020.

“Kita sudah menerapkan sebagaimana anjuran pemerintah. Dengan bekerja di rumah, diharapkan interaksi secara langsung dengan pegawai yang lain dapat dihindari sehingga mampu memperkecil peluang penyebaran covid-19,” kata Yusi di Jakarta, Rabu (8/4/2020).

Tapi, ia menyatakan bahwa kebijakan ini tidak berlaku bagi petugas operator Reaktor di BATAN.

“Mereka tetap harus bekerja memantau kegiatan reaktor selama 24 jam. Mereka tetap bekerja sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan untuk memastikan reaktor bekerja dengan aman dan selamat,” ujarnya.

Salah satu operator reaktor di Reaktor GA. Siwabessy di Kawasan Nuklir Serpong (KNS), Sukiyanto yang tidak mengikuti pelaksanaan WFH menyatakan, dirinya memahami bahwa pekerjaannya tidak mungkin dijalankan dari rumah, dan ini tidak menjadi persoalan ketika ia tidak melaksanakan WFH.

“Hal itu sudah menjadi keputusan pimpinan dan saya sudah tahu betul bahwa pekerjaan saya tidak dapat dikerjakan dari rumah, dan hal itu tidak masalah bagi kami,” ucapnya.

Pria paruh baya yang telah bekerja di Pusat Reaktor Serba Guna (PRSG), BATAN sejak 1 April 1986 merasa sudah terbiasa bekerja tidak mengikuti hari libur seperti pegawai lainnya. Ia akan tetap bekerja apabila jadwal masuknya malam hari, hari libur, bahkan hari besar agama seperti hari raya Idul Fitri sekalipun.

Namun menurut Sukiyanto, kondisi WFH di tengah wabah covid-19 ini berbeda dengan kondisi liburan yang lain. Kalau hari libur biasa, di luar KNS masih banyak yang menjual makanan, namun saat ini tidak banyak dan para pekerja dianjurkan meminimalisir interaksi dengan orang lain.

“Kami mengikuti aturan atau anjuran yang telah ditetapkan oleh pimpinan yakni mengurangi faktor risiko berinteraksi sosial. Untuk itulah kami yang sedang bertugas membawa makanan dari rumah,” imbuhnya.

Sebagai operator reaktor, Sukiyanto menjelaskan, dirinya telah mengikuti berbagai pelatihan penanggulangan keradaruratan untuk menghadapi segala situasi yang menyebabkan gangguan terhadap operasinya reaktor. Kemampuan menghadapi segala situasi itulah yang membuatnya tidak merasa panik apabila terjadi gangguan seperti gempa bumi di tengah malam.

“Selama melaksanakan tugas sebagai operator reaktor, saya memahami akan segala risiko yang mungkin akan terdampak padanya, seperti terpaparnya radiasi di dalam tubuhnya. Keluarga juga sudah paham, harapannya agar tidak panik apabila terjadi hal yang tidak diinginkan dan dapat mengambil tindakan yang tepat,” urainya.

Ia berharap, situasi ini segera selesai dan semua pegawai BATAN dapat berkerja seperti semula dan masyarakat pada umumnya tidak merasa ketakutan dan tidak lagi ada pembatasan dalam berinteraksi sosial.

“Kami berharap para petugas operator reaktor selalu dalam kondisi yang sehat walafiat dan tetap semangat menjalankan tugasnya dalam kondisi sekarang ini,” pungkasnya.

Lihat juga...