Jembatan Penghubung di Korobhera Diharap Segera Dibangun
Editor: Makmun Hidayat
MAUMERE — Kendaraan roda empat sangat sulit melintasi menuju Desa Korobhera Kecamatan Mego, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), bila air Kali Wajo sedang meluap, sehingga masyarakat kesulitan membawa hasil pertanian dan perkebunan menggunakan mobil ke luar wilayah desa.
Selama ini akses warga dari jalan negara trans Flores Maumere-Ende menuju wilayah desa di pantai selatan Pulau Flores ini hanya mengandalkan jembatan gantung yang dibangun di tahun 2012 menggunakan dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM).
“Kalau hujan atau debit air kali sedang tinggi maka kendaraan roda empat pasti tidak bisa melintas melalui kali,” sebut Kepala Desa Korobhera, Darius Weu, Rabu (1/4/2020).
Akibat ketiadaan kendaraan roda empat yang masuk ke desanya, kata Darius, kadang warga kesulitan menjual hasil bumi dalam jumlah banyak karena mobil pick up yang biasa digunakan pedagang membeli hasil perkebunan tidak bisa menjangkau wilayah ini.
Dirinya berharap agar penantian warga desanya sejak lama bisa segera terwujud di mana pemerintah bisa membangun sebuah jembatan permanen agar memudahkan akses transportasi ke wilayahnya.
“Kami sudah mengajukan usulan ke pemerintah namun belum juga direalisasikan. Kita berharap tahun depan sudah bisa terjawab agar masyarakat bisa mudah menjual hasil perkebunan mereka,” ujarnya.

Anggota DPRD Kabupaten Sikka, Benediktus Lukas Raja saat ditemui di lokasi mengatakan, perencanaan pembangunan Jembatan Korobhera ini sudah diajukan dan dianggarkan dalam APBD 2021.
Diky sapaannya mengharapkan agar jembatan yang menghubungkan wilayah Kecamatan Mego, Paga dan Lela di pantai selatan Kabupaten Sikka ini bisa segera dibangun agar memudahkan akses masyarakat menuju 3 kecamatan tersebut.
“Kalau jembatan ini sudah dibangun maka mobil dan sepeda motor yang ingin ke wilayah Kecamatan Lela di pesisir pantai selatan bisa melintasi jalur jalan ini. Dengan begitu jarak dan waktu tempuh lebih pendek,” ucapnya.
Tahun 2020, kata Diky, sudah dianggarkan melalui APBD II sehingga diharapkan tahun 2021 sudah bisa ditindaklanjuti sebab jembatan gantung yang dibangun masyarakat usianya sudah 8 tahun dan hanya bisa dilintasi satu sepeda motor.
Jembatan Gantung Arewawo ini, kata dia, juga dibangun secara swadaya oleh masyarakat menggunakan dana PNPM dan kondisi kayu lantai jembatan sudah banyak yang rusak dan patah.
“Tahun lalu ada kegiatan Bulan Bakti Gotong Royong (BBGR) tingkat kabupaten di Desa Korobhera, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Sikka membangun jembatan darurat tetapi sudah rusak terbawa banjir bandang,” ungkapnya.