BI Bali: Empat Faktor Dukung Stabilitas Pergerakan Rupiah
Editor: Makmun Hidayat
DENPASAR — Bank Indonesia memprediksi pergerakan nilai tukar rupiah yang bergerak stabil dan cenderung menguat menunjukkan keyakinan pasar yang terus membaik.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho mengatakan, terdapat empat faktor yang mendukung stabilitas nilai tukar. Pertama, pelaku pasar dalam dan luar negeri memiliki confidence karena Bank Indonesia selalu berada di pasar dan menempuh langkah-langkah yang diperlukan dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Kedua, confidence yang membaik ini didukung langkah-langkah yang ditempuh dari berbagai negara di dunia, baik dalam penanganan COVID-19 maupun stimulus fiskal dan moneter yang besar, termasuk di Indonesia. Hal itu terlihat pada stimulus fiskal (kenaikan defisit fiskal) pemerintah, quantitative easing dari Bank Indonesia dan kebijakan relaksasi kredit dari OJK.
“Faktor ketiga, mekanisme pasar berlangsung dengan baik, sehingga mengurangi kebutuhan Bank Indonesia untuk melakukan stabilisasi,” ujarnya Selasa, (21/4/2020), seraya mengatakan hal ini akan berdampak pada posisi cadangan devisa yang meningkat.
Keempat, selama satu minggu terakhir khususnya pada periode 14-16 April 2020, terjadi aliran masuk modal asing (inflow) masing-masing sebesar Rp0,7 triliun (14/4), Rp0,2 triliun (15/4), Rp2 triliun (16/4), inflow sebagian besar ke SBN. Secara historis periode 2011 – 2019 di Indonesia, outflow relatif kecil dalam periode yang pendek dan diikuti dengan inflow yang besar dalam periode yang panjang.
Data menunjukkan rata-rata outflow SBN sebesar Rp29,2 triliun dalam waktu 4 (empat) bulan dan diikuti inflow SBN sebesar Rp229,1 triliun dalam waktu 21 bulan. Hal tersebut mendasari keyakinan bahwa meskipun saat ini terjadi outflow sebagai dampak dari COVID-19, Bank Indonesia meyakini pasca penyebaran COVID-19 akan terjadi inflow yang lebih besar dalam periode waktu yang lebih lama.
Terkait inflasi, Trisno memaparkan bahwa Bank Indonesia memperkirakan inflasi pada periode April-Mei 2020 yang bertepatan dengan bulan Ramadan dan Idul Fitri akan lebih rendah dari pola historisnya. Ada beberapa faktor yang mendasari hal tersebut. Antara lain permintaan konsumsi akan lebih rendah terkait berbagai Pembatasan Sosial Berskala Besar di berbagai daerah. Hal itu mengurangi mobilitas sosial yang berdampak pada berkurangnya aktivitas fisik sehingga mengurangi pola konsumsi.
Kemudian, pemerintah juga akan memastikan pasokan barang kebutuhan pokok, termasuk melalui peran TPI/TPID. Sejak merebaknya kasus Covid-19, KPwBI Provinsi Bali telah melakukan High Level Meeting (HLM) TPID dengan Pemkot Denpasar dan Pemkab Badung untuk antisipasi dampak Covid-19 terhadap inflasi.
“Selain itu kondisi ekonomi secara keseluruhan menurun sehingga berdampak pada ekspektasi inflasi yang rendah. Serta nilai tukar stabil dengan harga komoditas rendah sehingga exchange rate pass through dan imported inflation rendah,” tandasnya.