Seorang Warga Sikka Berstatus PDP, 58 Lainnya ODP

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Semenjak merebaknya virus Corona, banyak warga kabupaten Sikka, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang selama ini merantau dan bekerja di luar daerah termasuk di negara lain seperti Malaysia kembali menetap di kabupaten Sikka.

Masuknya warga dari luar daerah menyebabkan meningkatnya warga yang berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP) maupun Orang Tanpa Gejala (OTG) di wilayah ini semenjak dilakukan penanganan virus Corona tanggal 11 Maret 2020.

“Sampai saat ini sudah satu orang berstatus PDP yang sedang dirawat di ruang isolasi RS TC Hillers Maumere. Pasien masuk rumah sakit, Kamis (28/3/2020),” kata Petrus Herlemus, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Provinsi NTT, Minggu (29/3/2020).

Suasana RS TC Hillers Maumere, Kabupaten Sikka, Provinsi NTT yang merupakan rumah sakit rujukan perawatan pasien Corona terlihat sepi saat disambangi, Minggu (29/3/2020). Foto: Ebed de Rosary

Petrus mengatakan, pasien baru beberapa hari kembali dari Malaysia dan terpaksa dirawat di rumah sakit karena mengalami batuk, flu dan sesak nafas. Setelah mendapatkan perawatan medis kondisi pasien mulai membaik.

Dirinya berharap agar pasien yang berasal dari kelurahan Beru kecamatan Alok Timur ini tidak meningkat statusnya menjadi suspect atau positif terjangkit virus Covid-19.

“Saat ini jumlah ODP sebanyak 58 orang dan OTG 1.286 orang. Pasien PDP ini merupakan kasus pertama yang ada di kabupaten Sikka,” ungkapnya.

Dokter Asep Purnama, dokter spesialis penyakit dalam rumah sakit TC Hillers Maumere, meminta pemerintah kabupaten Sikka fokus dalam upaya pencegahan melalui physical distancing dan karantina mandiri.

Strategi bertahan terbaik dalam melawan virus Corona kata Asep, yakni melibatkan masyarakat berada pada garda terdepan dengan pola bertahan dalam rumah dan para medis bekerja dengan tenang.

“Masyarakat bertahan di rumah agar tenaga medis dapat mengatur suplai kebijakan dan menyembuhkan korban-korban yang jatuh terlebih dahulu. Sedapat mungkin jangan tambah korban lagi,” ujarnya.

Benteng kegiatan kita kata Asep, yakni perilaku masyarakat yang merupakan prajurit terdepan dengan menjalankan strategi bertahan di rumah dan menerapkan strategi lock down sendiri.

Dirinya juga mengapresiasi banyaknya desa dan wilayah di kabupaten Sikka yang membuat ritual adat menutup kampung, melakukan pengawasan terhadap tamu yang datang maupun mengawasi masyarakatnya yang ada di luar wilayah.

“Kebijakan yang diambil di setiap wilayah dan desa dengan menggelar ritual adat dan menutup kampung merupakan langkah yang tepat. Saya juga mengapresiasi terbentuknya desa siaga Covid-19,” ujarnya.

Adanya desa siaga Covid-19 kata Asep, membuat desa bisa mengawasi secara langsung aktivitas setiap orang yang keluar dan masuk ke wilayah mereka sehingga karantina mandiri bisa berjalan dengan baik.

Lihat juga...