Petani Sayuran Terbantu dengan Tetap Beroperasinya Pasar Tradisional
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
LAMPUNG — Petani sayuran, bumbu dapur di Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) tetap bercocok tanam meski wabah Coronavirus Disease (Covid-19) melanda. Meski anjuran bekerja dari rumah (work from home) oleh pemerintah setempat, namun kegiatan bertani tetap berjalan.
Wiyono, petani di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan menyebutkan, kegiatan bertani sayuran pada masa wabah Covid-19 masih menguntungkan. Sebab sayuran sebagai bahan makanan masih banyak dibutuhkan masyarakat. Di antaranya bayam, sawi, kangkung, timun, kacang panjang, genjer, kemangi dan jenis lainnya.
Berbagai jenis sayuran tersebut menurut Wiyono ditanam dengan pola terjadwal. Proses pemanenan setiap sore untuk dijual pagi hari dan akan dikirim ke pedagang di pasar. Meski menjual sayuran dengan harga mulai Rp1.000 perikat ia tetap mendapat penghasilan.
“Menanam berbagai jenis sayuran dengan permintaan stabil menjadikan petani masih tetap memperoleh sumber penghasilan ketika ada wabah Corona dan sektor usaha lain sedang terpuruk karena tidak bisa dijalankan,” terang Wiyono saat dikonfirmasi Cendana News, Senin (30/3/2020).
Wiyono menyebut berbagai jenis sayuran yang ditanam bisa dipanen dalam waktu singkat. Sayuran sawi, kangkung, bayam cabut bisa dipanen kurang dari tiga pekan.
Pedagang di pasar tradisional menurut Wiyono meminta dipasok berbagai jenis sayuran dengan jumlah beragam. Satu pedagang kerap meminta belasan hingga puluhan ikat sayuran.
“Selama pasokan sayuran tetap ada maka pedagang tetap bisa berjualan sehingga rantai ekonomi tetap berjalan,” cetusnya.
Hapsah, petani lain di Desa Tanjung Heran menyebut permintaan hasil pertanian masih stabil. Beroperasinya sejumlah usaha warung makan membuat tomat mendira, kemangi tetap dipesan.
“Tomat mendira saya panen dua hari sekali menyesuaikan hari pasaran di Kecamatan Bakauheni, Ketapang dan Penengahan, rata rata dua kuintal sekali panen,” cetusnya.
Memanen tomat sekitar dua kuintal dengan harga Rp10.000 per kilogram cukup menguntungkan baginya, ditambah dengan perikat kemangi seharga Rp800.
Karminah, warga Desa Kelaten yang bertanam cabai merah mengungkapkan, sebagai petani ia masih bisa mendapatkan hasil tetap. Terlebih banyak masyarakat yang melakukan kegiatan di rumah membuat permintaan meningkat.
Harga cabai merah mencapai Rp25.000 per kilogram. Menjelang Ramadan harga kerap naik dan saat ini cukup menguntungkan petani,” bebernya.
Meski pembeli tetap berbelanja ke pasar, Hasanah menyebut jumlahnya tidak sebanyak kondisi normal. Pengurangan aktivitas di luar rumah dan tempat kerumunan akibat Corona membuat pelanggan berkurang.