Panic Buying dan Karantina Wilayah Berpotensi Picu Inflasi Pangan
SINGAPURA – Kebijakan karantina wilayah dan belanja dalam skala besar-besaran atau panic buying, akibat pandemi virus corona, berpotensi memicu inflasi pangan dunia. Banyak pasokan bahan pangan, biji-bijian dan minyak dari negara-negara pengekspor utama, dinilai tidak mampu mencegah kejadian tersebut.
“Pembelian panik dari importir besar seperti pabrik atau pemerintah dapat menciptakan krisis. Ini bukan masalah pasokan, tetapi pada perubahan perilaku atas keamanan pangan. Bagaimana jika pembeli massal berpikir mereka tidak bisa mendapatkan gandum atau beras pada Mei atau Juni? Itulah yang dapat menyebabkan krisis pasokan pangan global,” tutur Abdolreza Abbassian, ekonom senior FAO, Organisasi Pangan Dunia, Minggu (22/3/2020).
Menghadapi pandemi corona, negara-negara terkaya di dunia menggelontorkan bantuan, yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hal itu dipicu tekanan terhadap ekonomi global, ketika kasus-kasus virus corona meningkat di seluruh Eropa dan Amerika Serikat, dengan jumlah kematian di Italia melebihi yang terjadi di China daratan tempat virus itu berasal.
Dengan lebih dari 270.000 infeksi, dan lebih dari 11.000 kematian, epidemi ini mengejutkan dunia. Bahkan jika dibandingkan dengan periode seperti Perang Dunia II dan pandemi flu Spanyol di 1918.
Saat ini, konsumen di seluruh dunia dari Singapura hingga Amerika Serikat, telah mengantre di pasar swalayan dalam beberapa minggu terakhir. Mereka melakukan itu untuk memperoleh persediaan barang-barang mulai dari beras, pembersih tangan, hingga tisu toilet.
Patokan global Chicago wheat futures naik lebih dari enam persen pada minggu ini, menjadi kenaikan mingguan terbesar dalam sembilan bulan terakhir. Sementara harga beras di Thailand, eksportir biji-bijian terbesar kedua di dunia, telah naik ke level tertinggi sejak Agustus 2013.
Industri biji-bijian Prancis berjuang untuk menemukan truk dan staf yang memadai, guna menjaga pabrik dan pelabuhan tetap beroperasi karena pembelian pasta dan tepung dalam skala besar bertepatan dengan lonjakan ekspor gandum. Pembatasan yang diberlakukan oleh beberapa negara Uni Eropa di perbatasan mereka dengan negara-negara anggota lainnya, dalam menanggapi pandemi telah mengganggu pasokan makanan.
Departemen Pertanian AS (USDA) memperkirakan, stok gandum global pada akhir tahun pemasaran tanaman pada Juni, diproyeksikan menjadi 287,14 juta ton. Naik dari 277,57 juta ton di tahun lalu. Stok beras dunia diproyeksikan sebesar 182,3 juta ton, dibandingkan dengan 175,3 juta ton tahun lalu. Logistik cenderung menjadi masalah global utama, kata para analis.
“Ada sekitar 140 juta ton jagung yang masuk dalam etanol di Amerika Serikat, dan beberapa di antaranya dapat digunakan untuk makanan karena tidak akan diperlukan untuk bahan bakar, mengingat penurunan harga minyak. Kekhawatirannya adalah memiliki makanan pada waktu yang tepat di tempat yang tepat,” kata Ole Houe, Direktur Penasehat Layanan dari IKON Commodities
Pembeli di Asia tidak aktif pekan ini dengan ketidakpastian yang menjulang di pasar. “Kami tidak yakin dengan permintaan itu. Seperti apa jadinya pada Juni atau Juli? Bisnis restoran sedang turun, dan akibatnya permintaan agak berkurang sekarang,” kata seorang manajer pembelian sebuah perusahaan penggilingan tepung yang berbasis di Singapuran dan beroperasi di Asia Tenggara.
Para importir gandum Asia, termasuk importir utama kawasan ini, telah mengambil sebagian besar kargo dari wilayah Laut Hitam di tengah kelebihan pasokan global. Negara-negara pengekspor minyak di Timur Tengah, yang juga importir biji-bijian, kemungkinan akan merasakan lebih banyak kesulitan keuangan. Dan minyak mentah kehilangan lebih dari 60 persen nilainya di tahun ini.
“Kapasitas eksportir minyak bersih untuk membeli biji-bijian telah turun, karena jatuhnya harga minyak dan depresiasi mata uang. Akan ada lebih sedikit kapasitas untuk mengambil tindakan kebijakan untuk meningkatkan ekonomi,” simpul Abbassian. (Ant)