KKP Kembangkan Industri Pakan Berbasis Maggot
Editor: Makmun Hidayat
JAKARTA — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyiapkan pembangunan tujuh unit model percontohan industri pakan berbasis maggot skala industri di beberapa titik Balai Besar.
Ketujuh pakan industri maggot tersebut dibangun Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Sungai Gelam Jambi, Mandiangin, Tatelu, BBPBAP Jepara, Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo dan Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang.
“Maggot berpeluang cukup besar untuk dijadikan sebagai bahan baku alternatif pakan berprotein tinggi bagi pertumbuhan ikan”, jelas Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB), Slamet Soebjakto, di Jakarta, Minggu (1/3/2020).
Slamet menuturkan, maggot mempunyai peluang sebagai bahan baku alternatif pakan ikan yang dapat mengurangi penggunaan tepung ikan, dengan kandungan nutrien yang lengkap dan kualitas yang baik serta dapat diproduksi dengan kuantitas yang cukup dalam waktu singkat secara berkesinambungan.
Sejatinya, maggot merupakan organisme yang berasal dari telur Black Soldier Fly (BSF), pada metamorfosis fase kedua setelah fase telur dan sebelum fase pupa yang nantinya akan menjadi BSF dewasa.
Maggot dapat diproduksi dengan mudah dan cepat. Panen maggot dapat dilakukan mulai dari usia 10 hari hingga 24 hari, dimana telur Black Soldier Fly (BSF) sudah menetas dan memasuki fase larva yang tumbuh sekitar 15-20 mm hingga sebelum masuk fase pupa.
Slamet menerangkan bahwa maggot dapat diproduksi dalam waktu singkat, maggot dapat tersedia dalam jumlah melimpah dan sepanjang waktu, tidak berbahaya bagi ikan dikarenakan bukan vektor penyakit serta maggot mengandung nutrisi sesuai dengan kebutuhan ikan yakni kandungan protein sebesar 40-48persen dan lemak 25-32 .
“Produksi budidaya maggot tidak membutuhkan air, listrik, bahan kimia, dan infrastruktur yang digunakan relatif sederhana, serta maggot mampu mendegradasi limbah organik menjadi material nutrisi lainnya”, terang Slamet.
Keunggulan lain maggot antara lain teknologi produksi maggot dapat diadopsi dengan mudah oleh masyarakat, dan maggot dapat pula diproses menjadi tepung maggot (mag meal) sehingga dapat menekan biaya produksi pakan.
Melihat potensi yang dimiliki dari produksi budidaya maggot, maka perlu pengembangan industri maggot. Pengolahan sampah organik melalui teknologi biokonversi maggot diharapkan juga berperan dalam mengurangi sampah organik.
Maggot sebagai bahan baku alternatif pakan pada budidaya ikan memiliki tantangan karena terkait sampah organik sebagai sumber material yang masih memiliki nilai manfaat sebagai bahan baku media budidaya maggot.
Sumber awal Maggot berawal dari sumbernya yaitu rumah tangga, sehingga harus dipilah mana organik dan anorganik. Kualitas maggot tergantung dari bahan baku media budidaya yang digunakan.
Menurut penuturan ketua kelompok pembudidaya ikan leles lestari sekaligus pembudidaya maggot, Yosep Purnama, pakan Ikan yang menggunakan bahan baku tepung maggot sebesar 30-35 persen terbukti menghasilkan FCR sebesar 0,8 untuk budidaya ikan nila, dan nilai FCR 0,85 – 0.95 untuk budidaya Ikan Mas dan Ikan Gurame.
“Penggunaan tepung maggot dapat menghemat biaya bahan baku pakan ikan sebesar 50-60% melalui Pakan Mandiri berbasis Maggot,” ujar Yosep.
Yosep menambahkan bahwa larva BSF dapat diproses menjadi minyak sebagai pengganti lemak hewani atau minyak ikan dalam pembuatan pakan ikan serta kandungan asam laurat yang tinggi, telah terbukti memiliki sifat antimikroba.