Imbas Libur Cegah Corona, Usaha Kuliner Turun Omzet
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Imbas sejumlah kantor pemerintah, lembaga pendidikan, pertokoan libur selama darurat Corona Virus Disease (Covid-19) usaha kuliner alami penurunan omzet.
Artika, pemilik usaha warung makan berkonsep serba sepuluh ribu (Serbu) menyebut, usaha miliknya alami penurunan omzet. Sebab warung makan miliknya selama ini memiliki pelanggan pegawai, guru dan karyawan toko.
Keputusan pemerintah daerah seluruh aparatur sipil negara (ASN) bekerja dari rumah berimbas pelanggan berkurang. Sejumlah sekolah juga mewajibkan guru dan siswa melakukan kegiatan belajar mengajar jarak jauh.
Pelanggan yang masih datang ke warung makan diakuinya merupakan sejumlah pengemudi truk dan pekerja sektor informal yang masih bekerja.
Sebelum ada virus Covid-19 Artika menyebut dalam sehari ia bisa menyiapkan sebanyak 100 kilogram nasi. Terlebih pesanan nasi bungkus kerap berasal dari sejumlah kantor pemerintah.
Pada saat penyelenggaraan acara melibatkan banyak orang pesanan nasi bungkus diperoleh warung miliknya hingga ratusan bungkus. Semenjak larangan memgumpulkan massa, pesanan nasi bungkus berkurang.
“Dampak secara tidak langsung bagi usaha kuliner yang kami jalankan alami penurunan karena sehari habis 50 kilogram nasi saja sudah cukup banyak dan semakin sedikit warga yang makan di warung,” terang Artika pemilik warung makan di Jalinsum Penengahan, Lamsel saat ditemui Cendana News, Sabtu (28/3/2020).
Artika menyebut dalam kondisi normal warung miliknya mendapat omzet sekitar Rp3 juta per hari. Namun imbas banyak sejumlah kantor pemerintah yang mewajibkan Work From Home (WFH) omzet miliknya hanya berkisar Rp1 juta.
Ia bahkan memilih mengurangi nasi yang dijual untuk mengurangi kerugian. Hasil penjualan nasi bungkus menurutnya sebagian digunakan untuk membayar karyawan dan biaya sewa warung.
Pemilik warung makan di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) bernama ibu Nurci mengaku alami penurunan hasil. Sebab dalam sehari ia bisa menjual sekitar 100 porsi makan, kini hanya sekitar 60 porsi.

Meski lokasi warung ada di lokasi strategis imbas liburnya sejumlah perkantoran berimbas omzet menurun. Sejumlah perkantoran yang memesan makan siang dengan sistem katering sementara waktu tidak diperolehnya.
“Kami kerap mengalami permintaan nasi bungkus untuk dikirim ke kantor, tempat usaha namun kini berkurang,” cetusnya.
Dampak libur sekolah, work from home dan aktivitas di luar rumah yang berkurang juga mempengaruhi pedagang bahan baku.
Haryati, pedagang sayuran di pasar Pasuruan menyebut sebelumnya permintaan bumbu dominan dari sejumlah warung makan. Kini semenjak sejumlah warung sepi pembeli jumlah bahan bumbu yang dibeli berkurang termasuk sejumlah sayuran.

Selain Haryati, pedagang kelapa dalam bentuk butiran dan ampas mengalami penuruan permintaan. Ampas kelapa bahan pembuatan santan sebelumnya banyak dipesan oleh pemilik warung makan.
Sebelumnya dalam sehari 200 butir kelapa berhasil dijualnya kini hanya 50 butir per hari. Warung makan yang mengurangi jumlah penjualan ikut berdampak pada penurunan hasil. Virus Covid-19 berimbas pada berkurangnya warga berbelanja di pasar.