Cegah Virus Babi, Distan Sikka Sita Daging Asal Sulawesi
Editor: Makmun Hidayat
MAUMERE — Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), telah mengamankan satu box daging babi hutan yang datang dari Kendari, Sulawesi Tenggara menggunakan tol laut Sabuk Nusantara saat bersandar di pelabuhan Laurens Say Maumere Sabtu (29/2/2020).
Penyitaan daging babi dilakukan Distan Sikka untuk mencegah menularnya virus Demam Babi Afrika, African Swine Fever (ASF) yang telah merebak luas di NTT terutama di Pulau Timor yang menyebabkan ribuan ekor babi mati.
“Berawal dari informasi bahwa ada daging babi yang masuk dari Sulawesi. Setelah mendapat informasi petugas kami berkordinasi dengan petugas Karantina Pertanian, tapi tidak bisa komunikasi sehingga kami hubungi Satpol PP Sikka,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Mauritz da Cunha, Senin (2/3/2020).

Ternyata satu box daging babi tersebut, terang Mauritz, sudah dibawa ke rumah sehingga petugas Dinas Pertanian (Distan) bersama Satpol PP Sikka langsung menuju rumah pemiliknya dan melakukan penyitaan.
Dia menegaskan, semua barang dari luar daerah harus ada dokumen dan pemeriksaaan serta ada izinnya apalagi saat ini sedang merebak virus demam babi di beberapa wilayah di Indonesia.
“Kami membantu petugas karantina saja sehingga selanjutnya pihak karantina yang menentukan langkah selanjutnya setelah dagingnya disita. Gubernur NTT juga sudah telah mengeluarkan instruksi atau larangan soal perdagangan antar pulau daging babi untuk sementara,” terangnya.
Sesuai instruksi gubernur NTT, tambah Mauritz, semua daging babi dan produk olahannya dari luar wilayah NTT dilarang masuk ke dalam wilayah NTT serta dari wilayah tertular seperti dari Pulau Timor ke wilayah lainnya di NTT.
Sejak tahun 2019 lalu, sebutnya, Distan Sikka telah berjaga-jaga agar jangan sampai virus Demam Babi ini menyebar hingga ke Pulau Flores bahkan masuk ke wilayah Kabupaten Sikka.
“Kita juga sudah kirim 5 sampel daging dan darah dari babi yang masih hidup untuk diperiksa di Balai Verteriner Medan Sumatera Utara. Ini untuk mengetahui apakah babi yang ada di Sikka sudah tertular virus demam babi atau tidak,” jelasnya.
Harga daging di Kabupaten Sikka, kata Mauritz, tergolong tinggi sementara suplai dari wilayah Kabupaten Sikka kurang sehingga kebutuhan daging termasuk daging babi harus dipasok dari luar daerah.
Distan Sikka sebutnya takut masuknya daging babi hutan asal dari Sumatera karena bulan Februari ada satu kontainer daging babi hutan dari Sumatera masuk di Labuan Bajo namun disita dan dimusnahkan sebab Sumatera merupaka daerah tertular ASF.
“Yang ditahan merupakan daging babi dari kapal tol laut Sabuk Nusantara sementara ada beberapa box dari Makasar Sulawesi Selatan juga tiba dengan kapal Umisini. Namun saat petugas turun ke lokasi di Pasar Geliting dagingnya sudah dijual ke masyarakat,” ungkapnya.
Konradus Uwa, petugas Karantina Pertanian di Kabupaten Sikka menjelaskan, daging babi hutan asal Kendari tersebut tidak dilengkapi dengan dokumen dari daerah asal dan harus berangkat dan dilaporkan petugas Karantina Pertanian di Kendari.
Kalau tidak memiliki dokumen, maka tegas Konradus, pihaknya akan lakukan penyitaan sambil mengambil data dari pemilik daging babi tersebut baru setelah itu dilakukan pemusnahan.
“Kita akan lakukan kordinasi dengan daerah-daerah asal pengiriman daging babi seperti Sulawesi dan Sumatera untuk mencegah agar tidak ada daging babi yang tertular virus ASF masuk ke Kabupaten Sikka,” ujarnya.
Pengiriman daging babi antar kabupaten juga, tegas Konradus, untuk sementara ditutup dahulu sambil menunggu penyelidikan lebih lanjut untuk mencegah masuknya virus ASF.