Belum Panen Raya, Harga Jagung di Lamsel Sudah Anjlok

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Usai mengalami serangan hama ulat grayak berimbas biaya operasional membengkak, petani jagung alami harga jagung anjlok.

Husin, salah satu petani jagung di Desa Kalirejo, Kecamatan Palas, Lampung Selatan (Lamsel) menyebut harga jagung anjlok. Padahal masa panen raya jagung belum tiba karena hanya beberapa petani dengan lahan kurang dari belasan hektare yang panen.

Acuan anjloknya harga jagung diakui Husin berdasarkan panen musim sebelumnya. Sebab pada panen masa tanam ketiga (MT3) harga jagung di level petani bisa mencapai Rp4.200 per kilogram. Saat panen raya harga jagung pipilan di level petani bahkan masih mencapai Rp3.200 per kilogram. Namun pada masa tanam pertama (MT1) harga jagung hanya mencapai Rp2.800 lalu turun pada angka Rp2.300.

Husin, salah satu petani jagung di Desa Kalirejo Kecamatan Palas, Lampung Selatan memperlihatkan hasil panen jagung yang sudah kering, Senin (23/3/2020). -Foto Henk Widi

Sebaliknya harga jagung gelondongan atau belum dipipil perkarung pada MT3 mencapai Rp120.000. Kini saat masa panen MT1 harga jagung dengan sistem karungan hanya dibeli oleh pengepul Rp90.000. Penurunan harga tersebut menurut Husin dipengaruhi dua faktor. Pertama kualitas biji jagung rendah imbas hama ulat grayak, kedua kadar air tinggi akibat hujan saat proses pengeringan di batang.

“Imbas serangan ulat grayak tongkol jagung tidak terisi merata oleh buah bahkan sebagaian tidak berisi, saat proses penimbangan potongan kadar air juga tinggi sehingga harga jagung rendah,” terang Husin saat ditemui Cendana News tengah melakukan pemanenan jagung di kebunnya, Senin (23/3/2020).

Harga jagung yang anjlok saat masa panen menurutnya sangat merugikan petani. Sebab kalkulasi biaya operasional mulai penyiapan bibit, pengolahan, pemupukan, penyemprotan insektisida hingga panen cukup besar.  Pada lahan seluas satu hektare dengan bibit 20 kilogram ia mengeluarkan biaya operasional hingga Rp10juta. Hasil panen sebanyak 5 ton saja ia memastikan hanya mendapat selisih harga yang tipis.

Sesuai kalkulasi dengan harga Rp2.300 untuk hasil panen 5000 kilogram ia hanya mendapat hasil Rp11,5 juta. Selisih sebesar Rp1,5 juta diakuinya dipergunakan untuk biaya operasional proses pemanenan, pemipilan. Ia mengaku hanya mendapat keuntungan sekitar Rp450ribu dalam sekali panen. Padahal biaya yang dikeluarkan selama masa tanam cukup besar.

“Jika tidak ada serangan hama ulat grayak hasil panen bisa maksimal mencapai tujuh ton, target tidak tercapai,” bebernya.

Hasil panen jagung menurun imbas hama ulat grayak mengurangi kualitas biji jagung, Suminah salah satu warga memperlihatkan jagung yang telah dipetik di Desa Kalirejo,Kecamatan Palas, Lampung Selatan, Senin (23/3/ 2020). -Foto Henk Widi

Menanam jagung jenis pioner ia memastikan berharap pada bobot jagung. Namun karena kualitas yang menurun proses penimbangan jagung banyak dikurangi kadar air tinggi. Harga jagung yang anjlok menurutnya tidak bisa dielakkan. Meski demikian ia masih berharap pada lahan jagung lain miliknya yang masih memasuki tahap matal atau jelang pengeringan.

Suminah, salah satu pemilik kebun jagung lainnya mengaku masa panen MT1 harga merosot. Ia menyebut sebelumnya harga jagung sempat bertahan pada angka Rp2.800 perkilogram. Namun informasi dari sejumlah pengepul datangnya jagung dari daerah Lampung Timur mengakibatkan harga anjlok.

“Harga ditentukan oleh pabrik pakan unggas sehingga petani menyesuaikan saat pengepul membeli jagung hasil panen,” terang Suminah.

Suminah menyebut anjloknya harga jagung ikut berdampak pada upah buruh. Sebab para buruh petik yang semula diupah hingga Rp7.000 perkarung kini hanya diupah Rp3.000 perkarung. Penurunan upah diakuinya terjadi karena harga jual yang rendah berimbas petani tidak bisa mengupah para buruh seperti saat panen dengan harga yang tinggi.

Tukirah, buruh petik jagung mengaku ia hanya menerima upah Rp3.000 perkarung. Sebab sebagian petani yang memanen jagung mendapatkan hasil yang minim. Sejumlah pemilik kebun jagung kerap akan menaikkan upah menyesuaikan harga jagung. Mendapatkan hasil panen sebagai buruh petik sebanyak 10 karung saja dalam sehari ia hanya mendapat upah Rp30.000. Meski demikian pekerjaan itu tetap ditekuni untuk mendapat penghasilan.

Lihat juga...