Ulat Grayak Kian Ganas Serang Tanaman Jagung di Sikka

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Kondisi lahan jagung yang terkena serangan hama ulat grayak di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), kian memprihatinkan.  Data kerusakan tanaman jagung memperlihatkan peningkatan  drastiss elama sepekan terakhir.

“Minggu kemarin masih sebesar 756 hektare, tapi sekarang total keseluruhan lahan yang terkena serangan hama ulat grayak mencapai 2.066 hektare,” terang Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Marutitz da Cunha, Sabtu (1/2/2020).

Saat mendampingi bupati Sikka mengunjungi lahan jagung yang terkena serangan hama ulat grayak di Watuliwung, Mauritz mengakatakan, serangan hama ini begitu cepat dan masif sehingga Dinas Pertanian terus berupaya mengeliminir serangan hama ini.

“Hama ulat grayak ini telah menyerang 75 desa dan kelurahan di 14 kecamatan di Kabupaten Sikka. Hama juga menyerang lahan pertanian jagung di Kangae yang merupakan lahan jagung terbesar,” tuturnya.

Mauritz menambahkan, hama ulat grayak ini bersembunyi di dalam tanah dan saat malam hari akan muncul ke permukaan dan menyerang tanaman jagung yang berusia di bawah sebulan.

Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo saat meninjau lokasi kebun yang jagungnya layu dan terkena serangan hama ulat grayak di Watuliwung mengaku prihatin dan meminta para petani tetap tenang menghadapi kondisi ini.

“Kami merasa prihatin dan berharap para petai di Kabupaten Sikka tetap tenang karena pemerintah pasti akan membantu warganya. Kami akan segera mengambil langkah-langkah terbaik,” ujarnya.

Robi sapaannya menambahkan, menurut laporan dari petugas di lapangan luas tanam kurang lebih 11 ribu hektare sehingga pemerintah setelah ini akan mengkaji secara cepat langkah-langkah untuk penanganan.

“Kita juga akan mengkaji langkah penanganan dan antisipasi terjadinya gagal panen yang akan berdampak terhadap kelaparan. Kita juga akan laporkan secara berjenjang kepada gubernur NTT dan juga kepada presiden melalui menteri Pertanian RI,” terangnya.

Kondisi anomali iklim sedang melanda, kata Robi, karena seharusnya bulan-bulan Januari ini curah hujannya normal sehingga tidak ada lahan yang mengalami kekeringan dan berdampak terhadap gagal panen.

“Karena ini situasi alam jadi sudah masuk kategori bencana akibat kondisi iklim. Kami dalam satu dua hari ke depan akan memutuskan bila sudah memenuhi persyaratan maka akan ditetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB),” tuturnya.

Disaksikan Cendana News, kondisi lahan jagung di Desa Watuliwung, Kecamatan Kangae, selain mengalami kerusakan sedang akibat terserang hama ulat grayak juga jagungnya layu akibat panas yang panjang.

Sementara itu kondisi mengenaskan terjadi di Desa Habi dan Langir Kecamatan Kangae dimana banyak lahan jagung milik petani yang rata-rata berumur 5 minggu mengalami kerusakan akibat terserang hama ulat grayak.

Lihat juga...