Puluhan Tukang Bangunan SDN Margahayu Belum Dibayar

Editor: Koko Triarko

BEKASI – Nasib 50 orang kuli bangunan terkatung-katung, karena upahnya selama dua bulanan belum dibayar oleh kontraktor pembangunan gedung baru SD Negeri Margahayu XIII, di Bekasi Timur, Kota Bekasi Jawa Barat.

Padahal, bangunan sekolah tersebut sudah rampung sekira 85 persen. Gedung tersebut dibangun menggunakan APBD 2019 dengan total anggaran Rp2,3 miliar, yang saat ini diketahui mangkrak.

Dari puluhan tukang tersebut, saat ini masih ada lima tukang bangunan yang masih menunggu di gedung sekolah tersebut. Mereka menempati salah satu ruang tanpa daun pintu dan jendela di lantai dua sekolah tersebut, menunggu kejelasan upah yang sampai sekarang belum mereka terima.

“Ada 50 tukang yang membangun gedung SD Negeri Margahayu XIII yang belum dibayar. Kami sudah usahakan beberapa orang dibayar dengan menjual beberapa sisa bangunan,” ungkap Riki, mandor Pelaksana Pengawas kepada Cendana News, Senin (3/2/2020).

Riki, mandor pengawas pelaksana pekerjaan bangunan gedung SD Negeri XIII Margahayu, ditemui di lokasi sekolah, Senin (3/2/2020). –Foto: M Amin

Dikatakan Riki, saat bekerja, sebulan pertama gaji lancar, namun sebulan ke dua sampai ke empat mulai ngadat hingga sekarang. Riki sendiri mengaku digaji bulanan, sementara tukang gajian dua minggu sekali.

“Jika ditotal, utang pelaksana kegiatan bangunan gedung sekolah ini belum menyelesaikan gaji mencapai Rp200an juta, termasuk hitung lembur. Hal tersebut belum hutang material,” ungkap Riki, mengaku selaku mandor sub dari bos berbeda.

Riki mengaku, mengantisipasi hal yang tidak diinginkan ada beberapa tukang dan kenek sudah diberikan uang dari penjualan sisa material. Dari jumlah puluhan, sisa tinggal empat tukang dan kenek lagi yang masih tinggal di gedung SD Negeri Margahayu tersebut.

“Mereka nunggu uang gaji buat bayar utang di warung dan sisanya untuk pulang ke kampung halamannya. Bahkan, ada tukang yang saat ini sudah sakit, kasihan banget sebenarnya, tapi bagaimana?” tukasnya.

Berbagai upaya untuk menagih sudah dilakukan, salah satunya meminta langsung ke Pemerintah Daerah Kota Bekasi, tapi hanya diberi janji saja. Bahkan, saat pencairan ke tiga sekira awal Januari lalu, pernah dicegah harus menghadirkan kami tapi tidak digubris.

Upaya lainnya, sambung Riki, saat kunjungan anggota DPRD Kota Bekasi meminta agar bisa difasilitasi. Bahkan, sudah diakui, bahwa Direksi dari CV Mega Pratama yang menang tender tersebut salah satu direksinya adalah anggota Dewan di Sukabumi,” ujarnya.

Salah seorang tukang ditemui Cendana News, mengaku bernama Zaini Firmansyah, asal Palembang. Dia mengaku sehari digaji Rp90 ribu belum dihitung lembur, sisa yang belum dibayar Rp900an ribu lagi.

“Saya ingin segera dibayar, karena sudah cukup lama di sini, dan saya kalau dibayar ingin langsung pulang kampung ke Palembang, ada urusan keluarga,” ujarnya, yang mengaku sakit karena cuaca hujan terus dan tidur di gedung tidak berdaun pintu dan jendela.

Menurutnya, upah tukang dan kenek berbeda, Zaini mengaku hanya sebagai kenek yang saat ini masih bertahan dengan dua orang tukang dan satu kenek dari berbagai daerah seperti Banten dan Sumedang.

“Saat ini saya berharap bisa dikasih ongkos pulang saja sebesar Rp700 ribu dari total semua gaji saya, sisanya saya ikhlaskan, asal bisa cukup ongkos sampai ke kampung halaman di Palembang,” ungkapnya.

Lihat juga...