Pasien DBD di Sikka Capai 405 Orang

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

MAUMERE — Jumlah penderita Demam Berdarah Dengue di kabupaten Sikka provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami peningkatan pesat, dimana sejak Januari 2020 hingga Kamis (6/2/2020) sudah 405 orang terserang DBD. Bahkan dalam sehari, jumlah kasus DBD bisa mencapai angka 30 penderita baru.

Pegiat malaria dr. Asep Purnama yang juga dokter ahli penyakit dalam di rumah sakit TC Hillers Maumere kabupaten Sikka provinsi NTT saat ditemui, Jumat (7/2/2020). Foto : Ebed de Rosary

“Kita KLB sudah 5 kali. Selama ini masih kerja keras tetapi belum merupakan kerja cerdas. Mengubah perilaku masyarakat itu harus terus menerus” kata dr. Asep Purnama, pegiat malaria di kabupaten Sikka provinsi NTT, Jumat (7/2/2020) siang.

Ahli penyakit dalam ini menyebutkan, pihaknya sudah melakukan upaya maksimal, tetapi tetap ada Kejadian Luar Biasa (KLB), sehingga perlu ada terobosan dan bagaimana melakukannya diperlukan evaluasi.

“Evaluasi harus dilakukan agar kita bisa menilai apa yang beda di kabupaten Sikka. Apakah virusnya yang beda ataukah ada faktor lain, sehingga kasus DBD masih tetap tinggi,” tuturnya.

Semua warga di kabupaten Sikka sebutnya, sudah mengetahui dampak demam berdarah dan cara pencegahannya.

“Harusnya momentum peningkatan kasus DBD dan perpanjangan status Kejadian Luar Biasa (KLB) bisa menjadi pemicu perang terhadap penyakit ini. Masyarakat harus dilibatkan secara aktif,” ungkapnya.

Sementara itu Pelaksana Harian (Plh) Sekda kabupaten Sikka Wilhelmus Sirilus mengatakan, hingga Kamis (6/2/2020) jumlah pasien demam berdarah sudah mencapai angka 405 orang.

Menurut Sirilus, kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan di rumah dan lingkungan sekitarnya masih sangat lemah, dimana seharusnya masyarakat yang selalu rutin memantau jentik dan melakukan gerakan 4M Lus yakni Menguras,Mengubur, Menutup dan Memantau Jentik secara teratur.

“Semua sudah dilakukan pemerintah baik fogging, pembagian abate, sosialisasi bahkan kekrja bakti, membersihkan lingkungan seminggu sekali,” sebutnya.

Sirilus berharap agar masyarakat terlibat aktif, bersama dengan segenap elemen dan pemerintah untuk bersama-sama duduk membahas cara pencegahan penyakit DBD ini.

DBD telah merenggut nyawa 3 anak di kabupaten Sikka sejak awal bulan januari 2020, dimana korban pertama adalah Elisabeth Maria, balita berusia 1,7 tahun meninggal Selasa (7/1/2020), Yohanes Yuliano Putra Bang umur 2,7 tahun, Selasa (21/1/2020) serta Feradensia Akulia Trifena,12 tahun, yang meninggal Selasa (4/2/2020).

Lihat juga...