Kasus Novel Corona Meningkat Drastis, Kemenkes Minta Masyarakat Tenang
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta masyarakat untuk tidak panik menghadapi kasus Novel Corona Virus (nCoV) yang menunjukkan peningkatan kasus.
Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, Anung Sugihantono, menyatakan, dari rilis yang dikeluarkan WHO, per tanggal 4 Februari 2020 dilaporkan 20.630 CONFIRM dan kasus baru sebanyak 3.241.
“Dari semua kasus, 99 persen terjadi di Tiongkok. Angka kematian tercatat 426 orang dan sudah 23 negara melaporkan positif Corona Virus. Dari angka kasus meninggal di luar China, dinyatakan bahwa penyebab kematiannya tidak secara langsung,” kata Anung melalui Video Conference dari Lokasi Observasi di Natuna Kepulauan Riau, Rabu (5/2/2020).
Anung menegaskan bahwa masyarakat Indonesia tidak perlu panik menghadapi peningkatan kasus nCoV ini.
“Kasus memang meningkat secara eksponental. Tapi, sesuai dengan imbauan WHO juga, no panic and no fear, yang penting mengikuti protokol kesehatan dari WHO yang sifatnya rigid dan disiplin,” ucapnya lebih lanjut.
Terkait WNI yang terpapar di Singapura menurut Anung, sudah dirawat oleh pihak Kementerian Kesehatan Singapura.
“Dan untuk WNI lainnya, pihak Kemenlu sudah meminta agar tetap menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh. Agar tidak mudah terjangkit virus apapun,” ujarnya.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, dr. Wiendra Waworuntu, menyatakan penularan nCoV ini melalui droplet.

“Jadi kalau masakan atau minuman yang sudah dimasak dengan suhu antara 50-70 derajat Celcius kumannya sudah mati. Jangan takut atau termakan hoaks terkait penularan lewat makanan,” katanya saat temu media di Gedung Adhyatma Kemenkes Jakarta, Rabu (5/2/2020).
Untuk masa bertahan virus pun, Wiendra membandingkan dengan virus Hepatitis yang mampu bertahan selama 2 x 24 jam di udara terbuka.
“Kalau khawatir dengan dropletnya, harusnya lebih khawatir dengan hepatitis yang memang sudah ada di Indonesia. Intinya, jangan panik. Di Indonesia belum ada yang dinyatakan positif. Sehingga walaupun dikatakan bisa menular dari manusia ke manusia itu membutuhkan kontak langsung dengan penderitanya,” pungkas Wiendra.