Impor Bawang Putih China Dikhawatirkan Membuat Harga Semakin Sulit Ditekan

Pedagang membersihkan bawang putih di salah satu kios Pasar Pagi, Tegal, Jawa Tengah, Senin (10-2-2020) – Foto Ant

JAKARTA – Keputusan Pemerintah untuk membuka impor bawang putih dari China, dikhawatirkan membuat harga komoditas tersebut semakin sulit dikendalikan.

Menurut Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Tradisional (Ikappi) Abdullah Mansuri, impor bawang putih dari China dapat menimbulkan psikologi pasar yang bergejolak. Konsumen khawatir dengan isu virus Corona (Koronavirus), yang berasal dari negeri Tirai Bambu, dapat menyebar lewat bawang putih.

“Kami Ikappi memprediksi kalau impor berikutnya masih dari China, harga sulit ditekan seperti normal. Turun mungkin, tetapi sulit sampai Rp30.000 per kilogram,” kata Abdullah, Senin (10/2/2020).

Abdullah berpendapat, penurunan harga bawang putih akan sedikit melambat hingga di kisaran Rp38.000 sampai Rp40.000 per kilogram. Hal itu dipengaruhi kekhawatiran isu Koronavirus yang masih kuat di publik.

Sebagai informasi, Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian pada Jumat (7/2/2020) telah menerbitkan izin rekomendasi impor produk Hhrtikultura (RIPH) bawang putih sebesar 103.000 ton dari China. Keputusan membuka impor bawang putih dilakukan, karena stok yang kian menipis.

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), harga bawang putih Nasional hingga Senin (10/2/2020) sudah mencapai Rp55.300/kg. Oleh karena itu, Ikappi meminta Pemerintah dapat mendatangkan bawang putih selain dari China, dan tidak bergantung hanya pada satu pasar impor.

Hal itu bertujuan jika negara tersebut terkena konflik, psikologi pasar dalam negeri tidak terganggu. Negara-negara lain, seperti Thailand, Vietnam, dan Laos, dapat menjadi alternatif impor bawang putih jenis kating yang sesuai dengan konsumen Indonesia. “Kami merekomendasikan dari Vietnam, Laos, dan sebagainya, negara penghasil bawang putih yang lebih aman dari impor China karena isu terakhir ini menimbulkan psikologi pasar bergejolak,” kata Abdullah.

Di sisi lain, Pemerintah telah menetapkan komoditas berbasis tanaman, termasuk bawang putih tidak dikategorikan sebagai media pembawa Koronavirus. Oleh karena itu, Abdullah meminta agar fakta tersebut harus disampaikan dan disosialisasikan ke publik.

Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian mencatat, saat ini stok bawang putih dalam negeri yang masih tersisa sebanyak 70.000 ton. Stok tersebut hanya mampu memenuhi kebutuhan sampai Maret mendatang. “Yang paling penting stok impor sekarang diturunkan ke pasar agar harga ditekan. Kalau stok banyak, saya jamin harga tidak naik. Akan tetapi, kalau harga tinggi dan stok tidak banyak, akan naik terus setiap hari,” kata Abdullah. (Ant)

Lihat juga...