Hingga Rabu (12/2) China Mencatat 1.367 Kematian Akibat Corona
SHANGHAI – Jumlah kematian akibat wabah virus corona di daratan China, meningkat menjadi 1.367 hingga Rabu (13/2/2020). Komisi Kesehatan Nasional China (NHC) pada Kamis (13/2/2020) menyebut, kondisinya naik 254 kasus dari hari sebelumnya.
Di seluruh daratan China, terdapat 15.152 infeksi baru yang terkonfirmasi. Angka tersebut menambah jumlah kasus secara keseluruhan menjadi 59.804. Peningkatan tajam terjadi, setelah otoritas Hubei menyebut mereka telah menggunakan metode diagnositik yang lebih cepat, dengan menggunakan pemindai tomografi melalui komputer (CT).
Pemindaian tersebut disebut NHC telah mendiagnosa 13.332 infeksi baru. “Pemindai CT memperlihatkan penyakit paru-paru dan memungkinkan konfirmasi dan isolasi lebih cepat dari kasus baru,” kata Komisi Kesehatan Hubei, Kamis (13/2/2020).
Otoritas Hubei sebelumnya hanya mengizinkan infeksi dikonfirmasi oleh uji RNA, yang prosesnya membutuhkan beberapa hari. RNA atau asam ribonukleat, membawa informasi genetik yang memungkinkan identifikasi organisme seperti virus. NHC tidak memperhitungkan ketidakcocokan dari satu kasus, saat melaporkan total keseluruhan kasus hingga Selasa (11/2/2020) mencapai 44.653.
Sebelumnya, jumlah korban meninggal akibat wabah virus corona di Provinsi Hubei China kembali mencetak rekor harian pada Kamis (13/2/2020), yakni 242 orang. Sehingga jumlah total kematian di provinsi tersebut mencapai 1.310. (Baca: https://www.cendananews.com/2020/02/jumlah-kematian-corona-mencapai-1-310-di-hubei-china.html).
Sementara itu, ratusan layanan dukungan kesehatan mental melalui hotline telepon 24 jam bermunculan di China dalam beberapa pekan belakangan. Hal itu seiring dengan kekhawatiran masyarakat terhadap wabah virus corona, yang membuat orang lebih banyak tinggal di rumah agar terhindar dari infeksi.
Para profesional medis menyambut baik peluncuran sejumlah layanan resmi, kendati kesehatan mental masih dianggap sebagai topik yang tabu di China. Di sisi lain, mereka juga memperingatkan bahwa layanan telepon tidak resmi, justru dapat lebih banyak memicu masalah daripada menangani persoalan mental. “Banyak sekali layanan telepon oleh para relawan, namun jadi tidak masuk akal karena tidak banyak yang dapat dilatih,” kata Cui Erjing, relawan berbasis di Seattle yang berasal dari provinsi Guangdong, China, Kamis (13/2/2020).
Erjing menyebut, hal itu bisa menjadi trauma ketika seseorang meminta dukungan namun tidak mendapat respons yang benar. Survei oleh Chinese Psychology Society, yang diterbitkan di media pemerintah pada pekan lalu menunjukkan, dari 18.000 orang yang dites kecemasan terkait wabah corona, 42,6 persen merespons positif.
Selain itu, dari 5.000 orang yang dievaluasi untuk identifikasi gangguan stres pasca-traumatik (PTSD), 21,5 persen menunjukkan gejala yang jelas. Tagar #howtodealwithfeelingveryanxiousathome (bagaimana menangani kecemasan yang terjadi di rumah) mengemuka di media sosial Weibo, yang memiliki lebih dari 170 juta pengguna. Hal tersebut terjadi, seiring munculnya kekeliruan informasi mengenai sebaran penyakit, dan larangan bepergian meresahkan masyarakat.
Layanan telepon tersebut adalah bagian dari respons tingkat pertama yang dilakukan pemerintah, untuk menangani dampak psikologis dalam keadaan darurat. Hal itu pernah dilakukan setelah bencana gempa bumi di Sichuan pada 2008 silam. Komisi Kesehatan Nasional menyebut lebih dari 300 layanan telepon telah diluncurkan untuk menyediakan pelayanan kesehatan mental terkait wabah corona. Kegiatannya mendapatkan dukungan dari departemen psikologi di perguruan tinggi, layanan konseling, dan organisasi nonprofit.
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), layanan tersebut kebanjiran pasien, karena hanya tersedia sekitar dua psikiater per 100.000 orang. Xu Wang, psikoterapis dari Universitas Tsinghua, yang bekerja dengan layanan telepon resmi Beijing mengatakan, tantangan utama yang dihadapi adalah, para penelepon yang menunjukkan gejala virus dibandingkan gejala kecemasan. “Penelepon biasanya mempunyai masalah somatik dan mungkin menyebut saya tidak enak makan, tidak enak tidur, dan ingin tahu apakah ini infeksi virus,” kata Wang. (Ant)