Dinas PMD Lamsel Dorong Pengembangan UKM
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Lampung Selatan, mendorong upaya pengembangan usaha kecil menengah (UKM).
Rohadian, Kepala Dinas PMD, menyebut Desa Pasuruan memiliki potensi produk UKM yang bisa menjadi sumber penghasilan, salah satunya yang berasal dari produk pertanian.
Menurut Rohadian, sejumlah produk UKM di antaranya jamu, nasi tiwul, makanan tradisional, kopi bubuk, dan hasil kerajinan tangan. Sejumlah produk UKM tersebut kerap terkendala pemasaran. Sebab, sejumlah pelaku ekonomi kreatif masih melingkupi wilayah pedesaan.
PMD, menurut Rohadian mendorong setiap desa agar usaha yang ada di desa bisa difasilitasi oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Bumdes yang ada bisa menggunakan penyertaan modal dari Dana Desa (DD). Bumdes juga bisa melihat potensi yang ada di desa bisa dijual dan dikembangkan. Ia juga berharap potensi yang ada di desa bisa berkelanjutan, bukan hanya ketika ada lomba desa.
“Semua produk hasil usaha kecil yang ada di desa sangat potensial untuk dipasarkan, Bumdes memiliki fungsi menampung sekaligus menjual produk UKM, agar jangkauan pemasaran lebih luas,” terang Rohadian, Selasa (25/2/2020).
Desa Pasuruan yang mewakili Kecamatan Penengahan, menurut Rohadian memiliki potensi alam yang banyak. Kreativitas masyarakat bisa dilakukan untuk membuat produk olahan dari hasil pertanian. Keberadaan tanaman obat keluarga (Toga) yang dikembangkan harus dimaksimalkan.
Murtinah, salah satu warga Desa Pasuruan, mengaku membuat jamu tradisional seperti air jahe, beras kencur, gepyokan uyup-uyup, kunyit asem, paitan, dan sirih. Sejumlah jamu tradisional yang dibuat tersebut, menurutnya berasal dari sejumlah tanaman yang diperoleh dari kebun miliknya. Setiap hari, ia menjual jamu di pasar tradisional, dan sebagian dijajakan dengan cara berkeliling.
“Saya memaksimalkan sejumlah tanaman jamu untuk menghasilkan uang sekaligus menyehatkan,” beber Murtinah.
Camat Penengahan, Erdiyansyah, menyebut potensi produk UKM di kecamatan tersebut sangat besar. Salah satu produk yang sudah dikenal luas meliputi kopi Krakatoa atau Krakatoa Coffee. Dijual secara offline dan online, penjualan produk kopi bubuk asal Desa Pasuruan tersebut menjadikan desa di kaki Gunung Rajabasa itu makin dikenal.
Pengembangan produk kopi sebagai hasil UKM, menyesuaikan permintaan. Selama ini, produk kopi bubuk yang dipasarkan dalam kemasan sekitar 150 gram dan ukuran lain. Namun untuk penjualan yang lebih praktis, produsen mulai mengolah kopi dengan sachet siap seduh. Kopi bubuk yang sudah dicampur dengan gula memudahkan penyajian langsung.
“Kemasan siap seduh merupakan pengembangan, karena sebelumnya hanya dijual produk kopi bubuk tanpa gula,” beber Erdiyansyah.
Pengembangan UKM sebagai bagian dari kegiatan lomba desa sudah dilakukan desa Pasuruan sejak lama.
Sumali, kepala Desa Pasuruan menyebut, puluhan hasil UKM warga desa telah disajikan pada kegiatan lomba desa. Sejumlah produk UKM yang ditampilkan merupakan hasil usaha kecil di desa tersebut sebagian skala rumah tangga.
“Meski usaha kecil, namun sebagian produk bisa dinikmati hingga keluar desa, bahkan kabupaten,” beber Sumali.
Sejumlah produk UKM, menurutnya dipasarkan dengan mengandalkan penjualan langsung. Namun sejumlah produk UKM, menurutnya berpotensi dijual melalui sistem online.
Penjualan yang dilakukan memanfaatkan media sosial Instagram, Facebook dan WhatsApp. Penjualan memanfaatkan media sosial menjadi cara produk UKM Desa Pasuruan bisa dikenal luas dan meningkatkan pendapatan warga.