Pembebasan 118 Bidang Tanah di Ciliwung Ditarget Selesai April
JAKARTA – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan, penyelesaian tunggakan pembebasan sebanyak 118 bidang tanah untuk pelebaran sepanjang Ciliwung selesai pada April 2020.
“Pembebasan lahan (tunggakan) sedang proses inventarisasi. Kalau memang surat-suratnya komplet, anggaran diketok, kami bayar. Targetnya sekitar Maret-April,” kata Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, Juaini Yusuf, Senin (13/1/2020).
Sebanyak 118 bidang tanah tersebut, disebut Juaini, berada di empat kelurahan. “118 bidang. Masing-masing bidang ada beberapa meter. Dari Tanjung Barat sampai Pejaten Timur, empat kelurahan itu,” ucap Juaini.
Juaini menyebut, pihaknya masih berkonsentrasi pada 118 bidang tanah tersebut. Jika ada penambahan pembebasan lahan, akan dimasukkan dalam dokumen APBD Perubahan 2020. “Nanti masuk di perubahan. Yang jelas yang ada kami manfaatkan dulu. Nanti yang kurang di perubahan kami ajukan,” kata Juaini.
Diketahui, Pemprov DKI Jakarta akan membebaskan lahan untuk normalisasi Kali Ciliwung pada 2020. Ada empat kelurahan yang disebut siap untuk dibayar Pemprov DKI Jakarta. “Menurut Kementerian PUPR baru dinormalisasi 16 kilometer dari 33 kilometer, nah sisanya itu kita bebaskan bertahap. Rencana (tahun ini) ada 118 bidang di empat kelurahan. Yang jelas ada empat kelurahan, 118 bidang yang mau dibebaskan,” ucap Juaini.
Lebih lanjut Juaini Yusuf menyebut, upaya penanganan banjir yang dilakukan Pemrov DKI Jakarta di 2020 ini sudah makin baik. Terbukti dampak dari banjir yang terjadi lebih kecil dibandingkan 2015 silam. “Kalau menurut data BMKG, ini hujan curahnya yang 100 tahun yang lalu dan debitnya lebih banyak. Bisa juga, kesiapan kita memang dari awal sudah siap,” ujar Juaini.
Salah satu upaya yang terus dilakukan adalah, pengerukan waduk dan embung. Hal itu diyakininya sangat berperan dalam proses surutnya air di tengah curah hujan tinggi pada awal 2020. “Dari awal tahun sudah melakukan itu, pengerukan segala macam. Mungkin itu bisa menjadi salah satu ukuran juga yang menyebabkan banjir tidak lama-lama. Kalau memang kita tidak keruk mana mungkin air bisa cepat surut. Buktinya sekarang di saat wilayah lain masih berkutat perbaikan, kita sudah bersih semuanya,” katanya.
Terkait antisipasi banjir, Juaini mengatakan, pihaknya memiliki prosedur yang harus dijalankan selain pengerukan, yakni pengoptimalan pompa. “Pompa-pompa dioptimalkan, yang tidak beroperasi kemarin kita sedang dalam perbaikan. Yang jelas, kita harus tetap siap sampai cuaca normal, itu terus kita kerjakan,” tandasnya.
Juaini juga mengatakan, dalam kurun waktu 2015 hingga 2019, terdapat penguatan terhadap antisipasi banjir di Jakarta. Termasuk tambahan petugas dan peralatan. “Kalau petugas ditambah. Dulu mungkin tidak seberapa. Sekarang hampir 8.000-an petugas yang kita miliki. Pompa ada tambah satu atau dua. Dan kesiapan kita juga di lapangan ada penambahan waduk-waduk juga. Mungkin itu juga bisa menjadi indikasi banjirnya tidak terlalu lama-lama dibandingkan dengan yang dulu-dulu, lalu eskavator juga tambah lima hingga 10 unit, nanti dilihat lagi kalau perlu ditambah,” ucapnya.
Data BPBD DKI Jakarta, Bappenas, dan BMKG yang dirangkum Pemprov DKI Jakarta Minggu (12/1/2020) terungkap, saat banjir pada 2020 ini, curah hujan mencapai paling tinggi dalam siklus banjir besar, yakni 377 milimeter per hari. Banjir besar di Jakarta pada 2020 ini, hanya menyebabkan luas area tergenang 156 km persegi dengan jumlah RW tergenang sebanyak 390. Kondisinya tidak sampai menyebabkan lumpuhnya area strategis seperti Bundaran HI, Jalan Thamrin dan kawasan Medan Merdeka.
Berdasarkan data itu juga, pada 2020 ini jumlah pengungsi sebanyak 36.445 jiwa, yang tersebar di lokasi pengungsian sejumlah 269 dengan korban jiwa meninggal 19 orang. Jika dibandingkan banjir besar sebelumnya yakni pada 2013 dan 2015, dengan curah hujan relatif lebih rendah masing-masing sekitar 100 mm dan 277 mm per hari.
Luas area tergenang mencapai 240 km dan 281 km yang menyebabkan masing-masing 599 RW dan 702 RW tergenang termasuk area strategis Ibu Kota. Pada 2013 dan 2015, pengungsi mencapai 90.913 jiwa dan 45.813 jiwa, tersebar di 1.250 dan 409 lokasi pengungsian dengan korban jiwa masing-masing 40 dan lima orang. (Ant)