KKP Siapkan Strategi Capai Target Produksi Rumput Laut

JAKARTA – Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan produksi hingga sebesar 10,99 juta ton rumput laut pada 2020, dengan menyiapkan berbagai strategi percepatan peningkatan produksi komoditas tersebut.

“KKP berkomitmen menggenjot nilai ekspor rumput laut, guna pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Dirjen Perikanan Budi Daya KKP, Slamet Soebjakt,o dalam siaran pers di Jakarta, Minggu (19/1/2020).

Slamet menambahkan, selama ini rumput laut masih mendominasi dengan kontribusi sebesar 60,7 persen terhadap total produksi perikanan budi daya nasional. Berdasarkan data KKP, tercatat angka sementara pada 2019, produksi rumput laut nasional mencapai 9,9 juta ton.

Untuk mewujudkan target penambahan sekitar 1 juta ton pada 2020, KKP sudah menyiapkan berbagai strategi percepatan peningkatan produksi rumput laut dalam peta jalan industrialisasi rumput laut nasional hingga lima tahun mendatang.

Hal itu, ujar dia, untuk memastikan ketersediaan bahan baku dan kualitas rumput laut terus terjaga, baik untuk ekspor maupun memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Dirjen Perikanan Budi Daya KKP juga mengatakan, bahwa komitmen Presiden Jokowi untuk mengandalkan industrialisasi rumput laut nasional menjadi langkah positif dan strategis.

Menurut dia, percepatan industrialisasi rumput laut bukan lagi tanggung jawab sektoral, tetapi menjadi prioritas nasional sehingga ada keterlibatan lintas sektor. Dalam hal ini, Presiden telah menetapkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 33 tahun 2019 tentang Roadmap Industrialisasi Rumput Laut Nasional.

“Perpres ini saya kira menegaskan komitmen Presiden terhadap pengembangan rumput laut nasional, dan ini menjadi acuan tanggung jawab masing-masing sektor terkait. KKP dalam hal ini Ditjen Perikanan Budidaya, bertanggung jawab dalam menjamin ketersediaan bahan baku industri melalui percepatan peningkatan produksi di hulu. Kami pastikan, KKP telah menyiapkan berbagai strategi untuk menggenjot produksi,” tegasnya.

Merujuk pada data FAO (2019), sambungnya, Indonesia merupakan produsen terbesar nomor satu dunia, khususnya untuk jenis eucheuma cottoni dan menguasai lebih dari 80 persen pangsa pasar, utamanya untuk tujuan ekspor ke Cina.

Namun demikian, saat ini ekspor rumput laut Indonesia ke Cina hampir 80 persen masih didominasi bahan baku mentah.

Untuk itu, lanjut Slamet, penting menaikkan nilai tambah devisa ekspor dengan menggenjot ekspor nonbahan baku, paling tidak 50 persen bisa diekspor dalam bentuk setengah jadi, seperti semi refine carrageenan dan refine carrageenan. (Ant)

Lihat juga...