Kemenkes Minta Masyarakat Jangan Termakan Hoaks

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa belum ada kasus positif Novel Corona Virus (nCoV) di Indonesia dan meminta masyarakat untuk tidak menjadi korban hoaks yang beredar di media sosial. Serta meminta masyarakat lebih memperhatikan kebersihan tangan dan menggunakan penutup mulut.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadya Tarmizi, menyatakan bahwa walaupun kasus nCoV menunjukkan peningkatan secara signifikan dalam hal jumlah tapi persentase kematiannya kecil.

“Estimasi peningkatan kasus menurut WHO bisa mencapai 135 ribu kasus atau lebih tapi WHO tidak menetapkan Public Health Emergency Concern karena memang belum menjadi pandemi global,” kata Siti saat PAPDI Forum di Ibis Senen Jakarta, Rabu (29/1/2020).

Dari data Kemenkes, kasus yang dilaporkan adalah 4.593 dengan 106 kematian. 4.537 terjadi di China dan 56 kasus terjadi di 14 negara.

“Di Indonesia sendiri belum ada yang dilaporkan positif nCoV dari beberapa kasus yang dilaporkan. Sehingga yang dilakukan oleh pemerintah adalah tindakan promotif dan preventif,” ujarnya.

Siti juga menekankan bahwa masyarakat harus memahami bahwa sejauh ini belum ditemukan penyebab utama dari virus ini dan belum ditemukan obat yang bisa menyembuhkan.

“Jadi kami dari Kemenkes meminta agar masyarakat tidak termakan oleh artikel artikel yang hadir di media sosial, karena apapun yang disebutkan belum terbukti secara klinis. Termasuk penggunaan masker N95. Bukannya tidak boleh, hanya yang paling penting adalah menjaga ketahanan dan kebersihan,” ujarnya.

Ia memaparkan pentingnya mengaplikasikan kebiasaan menutup mulut saat batuk atau bersin dengan tisu atau tangan.

“Tisu yang sudah dipergunakan, dibuang ke tempat sampah dan biasakan mencuci tangan. Karena sifat penularan droplet adalah melalui percikan. Sehingga penting untuk mencuci tangan setelah beraktivitas maupun sebelum makan,” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Ahli Pulmonologi FKUI RSCM Dr. dr. Cleopas Martin Rumende, SpPD, K-PTI, FINASIM, FCCP bahwa masyarakat harus memuliakan untuk terbiasa dengan cara batuk yang baik maupun kebiasaan menjaga kebersihan tangan.

Ahli Pulmonologi FKUI RSCM Dr. dr. Cleopas Martin Rumende, SpPD, K-PTI, FINASIM, FCCP saat PAPDI Forum di Ibis Senen Jakarta, Rabu (29/1/2020). – Foto: Ranny Supusepa

“Masyarakat kita suka teledor dengan kebiasaan mencuci tangan. Pakai masker, tapi kalau makan tidak cuci tangan. Ya akhirnya terpapar virus juga,” ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa tidak ada pengobatan untuk menghilangkan virus.

“Pengobatan itu diberikan untuk gejala ikutan yang muncul. Biasanya demam, itu nanti diberikan obat penurun demam. Kalau lebih dari seminggu belum sembuh, gejala batuk atau pilek, sebaiknya periksa lagi, takutnya ada bakteri,” urainya.

Daya tahan seseorang, menurutnya, adalah yang mampu melawan virus.

“Yang penting itu jaga daya tahan. Makan sehat, vitamin untuk meningkatkan imun dan istirahat cukup. Karena dengan imunisasi tubuh yang tinggi maka virus tidak akan berkembang biak,” pungkasnya.

Lihat juga...