Ubi Ungu-Kedelai Hitam Bermanfaaat untuk Pengobatan Diabetes

Editor: Makmun Hidayat

Dosen Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. Abdul Gofur, M.Si, menjelaskan terkait pemanfaatan ubi ungu dan kedelai hitam untuk pengobatan diabetes di Gedung Rektorat UM, Selasa (16/12/2019). -Foto: Agus Nurchaliq

MALANG — Indonesia selama ini dikenal memiliki potensi keanekaragaman hayati yang berlimpah. Hanya saja, potensi tersebut masih belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. 

Menurut dosen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (FMIPA)  Universitas Negeri Malang (UM), Prof. Dr. Abdul Gofur, M.Si, potensi keanekaragaman hayati tersebut jika mampu dioptimalkan dengan baik bisa dijadikan sebagai salah satu bahan alternatif untuk pengobatan. Salah satunya yaitu ubi jalar ungu dan kedelai hitam.

“Dalam penelitian kami, ubi ungu dan kedelai hitam kita gunakan sebagai alternatif pengobatan untuk penyakit kencing manis (diabetes mellitus). Karena keduanya mengandung antioksidan berupa antosianin yang dapat menurunkan radikal bebas dalam tubuh,” jelasnya saat ditemui di Gedung Rektorat UM, Selasa (17/12/2019).

Menurutnya, radikal bebas sendiri dapat disebabkan karena gaya hidup yang tidak sehat dan konsumsi makanan tinggi lemak. Terlebih, saat ini masyarakat lebih sering menerapkan pola hidup yang tidak baik dan ‘kebarat-baratan’ seperti mengonsumsi makanan instan,  makanan cepat saji yang mengandung tinggi lemak, maupun minuman bersoda serta kurang berolahraga.

“Gaya hidup yang seperti inilah yang kemudian dapat menyebabkan berbagai penyakit, salah satunya diabetes mellitus atau kencing manis,” terangnya.

Penyakit diabetes juga dapat menyebabkan komplikasi seperti adanya masalah yang berkaitan dengan sistem reproduksi. Kadar gula darah tinggi yang dibiarkan dan berkepanjangan pada penderita diabetes menyebabkan terganggunya  spermatogenesis.

“Dari hasil survei yang ada menunjukkan sekitar 90 persen dari pasien diabetes pria memiliki gangguan fungsi seksual dan berdampak pada kondisi akhir yang disebut infertile atau tidak subur”, ungkapnya.

Lebih lanjut disampaikan pria kelahiran 7 Juli 1954 tersebut, penelitian yang ia lakukan bersama timnya sudah diujicobakan pada tikus sebagai hewan percobaan. Sebelumnya tikus tersebut diberi pakan tinggi lemak dan disuntik oleh bahan kimia streptozotocin untuk membuat tikus dalam kondisi diabetes, didasarkan pada kadar gulanya.

Setelah dibuat menjadi diabetes, hewan coba tersebut kemudian diberi pengobatan dengan tanaman herbal berupa kombinasi ekstrak ubi jalar ungu dan kedelai hitam selama kurang lebih satu bulan.

“Baru selanjutnya hewan coba kami bedah dan diukur dari berbagai parameter yang berkaitan dengan diabetes. Ternyata hasilnya menunjukkan adanya perbaikan kondisi dan penurunan kadar gula darah mencit model diabetes,” terangnya.

Ia berharap dari hasil penelitian tersebut mampu menyadarkan masyarakat terkait pemanfaatan keanekaragaman hayati sebagai alternatif pengobatan dan pola hidup sehat untuk menghindari penyakit diabetes.

Lihat juga...