Petani Lahan Kering di Kangae Terkendala Modal dan Cuaca
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
MAUMERE — Sebagian petani lahan kering di desa Habi dan Langir di kecamatan Kangae yang merupakan sentra penghasil jagung untuk mulai bercocok tanam masih terkendala modal hingga cuaca, meski hujan mulai mengguyur kabupaten Sikka, NTT sejak akhir November lalu.

“Saya belum membajak lahan sebab masih menunggu hujan. Uang untuk sewa traktor untuk bajak lahan juga belum ada,” kata Anastasia Hanapia petani jagung di desa Langir kecamatan Kangae kabupaten Sikka, NTT, Senin (2/12/2019).
Untuk membajak lahan, kata Ina Pia sapaannya, dirinya masih menunggu kiriman uang dari anak angkatnya dahulu yang bekerja di kabupaten Ende, NTT.
Terkadang kata perempuan yang hidup membujang ini, dirinya harus menjual ayam dan babi peliharaannya agar bisa mendapatkan uang untuk biaya sewa traktor yang membajak lahan kebunnya.
“Saya tidak masuk kelompok tani sehingga tidak pernah mendapat bantuan bibit jagung, kacang tanah dan pupuk dari dinas pertanian kabupaten Sikka,” tuturnya.
Ina Pia mengaku tidak bisa menggunakan cangkul untuk membajak lahan kebunnya seluas sekitar setengah hektare karena usianya yang sudah 70 tahun.
Meski begitu dirinya tetap semangat mengolah kebunnya setiap tahun dimana saat musim hujan dirinya baru menanam jagung, singkong dan kacang tanah.
“Paling hasil kebunnya untuk dikonsumsi sendiri seperti jagung. Sementara sisanya untuk memberi makan babi dan ayam peliharaannya yang dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tuturnya.
Berbeda dengan Anastasia Hanapia, Paulus de Cruce anggota kelompok tani Suka Maju desa Langir kecamatan Kangae mengakui anggota kelompoknya sebanyak 20 orang selalu mendapat bantuan.
Setiap musim tanam kata Paulus, dirinya selalu mendapat bantuan bibit jagung Hibrida sebanyak 2 kilogram disesuaikan dengan luas lahan kebunnya yang memiliki luas sekitar satu hektare.
Pupuk yang diterimanya kadang sebanyak 50 kilogram tapi kadang hanya 25 kilogram saja karena harus membagi dengan petani lainnya di kelompok tani mereka.
“Untuk dapat pupuk kami harus setor uang Rp24 ribu baru mendapat pupuk. Kami juga juga tidak tahu dapat berapa kilogram sebab jumlah yang diterima tidak menentu setiap tahunnya,” sebutnya.
Kadang kala, kata Paulus, saat bantuan pupuk tiba petani sudah menanam jagung bahkan pernah pupuknya tiba saat sudah ditanam sebulan lebih, sehingga terlambat dan tidak memberi manfaat berarti bagi tanaman jagungnya.
Harusnya, ucap dia, saat tanaman jagung sudah berumur seminggu harus dikasih pupuk dan saat berumur sebulan harus dikasih pupuk lagi.
“Luas lahan kebun saya sekitar satu hektare sehingga bisa butuh 100 kilogram pupuk urea. Meskipun pupuknya kurang, petani tidak bisa membelinya di toko karena harus melalui kelompok tani dan membawa surat rekomendasi dari dinas Pertanian,” jelasnya.
Paulus mengaku lahan pertaniannya sudah dibajak seperempatnya dan yang lainnya masih menunggu hujan karena kondisi tanahnya masih keras sekali akibat tidak dipergunakan usai panen Maret 2019 lalu.
Karena masuk anggota kelompok tani maka dia mengaku hanya menyiapkan dana Rp50 ribu untuk satu lahan kebun yang dimilikinya dan biaya ini sangat membantunya.
“Bayarannya tergantung luas lahan dan banyaknya lahan sehingga jumlah pembayarannya pun berbeda antara satu petani dan petani lainnya,” pungkasnya.