Lobster, Produk ‘Seafood’ Premium Potensial Dikembangkan

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Meski survival rate Benih Lobster (BL) itu rendah, tapi dengan menggunakan metode yang tepat dan lokasi budi daya yang sesuai, maka diperkirakan lobster akan mampu menjadi primadona premium di market seafood Indonesia.

Pengamat Lobster, Bayu Priyambodo, Ph.D., menyatakan lobster adalah produk seafood premium dan memiliki tingkat prestige. Dan, permintaan di pasar jauh lebih tinggi dibandingkan suplai yang ada.

“Perikanan tangkap sudah tereksplotasi, bahkan bisa dibilang statis, jika tidak mau dikatakan cenderung turun. Nah, lobster ini sebenarnya bisa menjadi salah satu solusi. Sifatnya padat karya dan teknologinya relatif sederhana,” kata Bayu, saat acara FGD Lobster di Mina Bahari 4 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Jakarta, Kamis (19/12/2019).

Pengamat Lobster, Bayu Priyambodo, P.hD., saat acara FGD Lobster di Mina Bahari 4 KKP, Jakarta, Kamis (19/12/2019). -Foto: Ranny Supusepa

Namun, Bayu menyebut survival rate lobster itu sangat rendah. Secara umum di bawah 0,1 persen pada hotspot BL (Benih Lobster) hingga 0,01 persen.

“Jadi bisa dibilang dari 10 ribu ekor benih, yang hidup hanya satu. Tapi jika dilakukan dengan benar, tingat keuntungannya bisa mencapai 70 hingga 80 persen,” ucap Bayu.

Tantangan terbesar pada proses pengembangbiakan lobster adalah saat pendederan. Yaitu, masa awal benih lobster hingga masuk tahap juvenile.

“Jadi tahapan dari phyllosoma ke larva, lalu final stage phyllosoma, puerulus hingga juvenile, yang kira-kira tiga bulan warnanya mulai hitam, itulah masa yang rentan. Terutama karena masalah pakan jika dibudi daya dan pemangsa jika di lautan lepas,” papar Bayu.

Tahap awal ini, menurut Bayu, BL harus selalu mendapatkan pakan segar yang merupakan campuran dari ikan, udang, kerang maupun kepiting. Seringkali, pakan yang tidak segar menyebabkan gagalnya lobster bertahan hidup.

“Untuk kebutuhan memproduksi 1.500 mt per tahun dan FCR 20, kebutuhan pakannya 30.000 mt. Masalah muncul, jika suplai pakan ini masuk ke ekosistem di sekitar budi daya, maka akan menyebabkan terganggunya siklus ekosistem,” urainya.

Dan, komponen pakan untuk BL ini, katanya, pun harus benar-benar mengikuti ukuran lobster. Waktu pemberian pakan dan tekstur pakan juga harus mengikuti ukuran lobster.

“Dengan melihat pada model budi daya di Lombok, keuntungan sangat dipengaruhi oleh harga dan ketersediaan benih, pakan serta harga saat panen. Biasanya untuk menghindari penyakit, pembudi daya lobster memanen saat berat sekitar 100 gram untuk menghindari risiko penyakit. Tapi, kalau menunda panen hingga berat 300 gram per ekor, maka potensi keuntungan lebih besar,” papar Bayu.

Tantangan berikutnya setelah masa pendederan dan pakan, menurutnya adalah kebersihan jaring, kanibalisme tinggi pada stadia puerulus hingga berat 50 gram per ekor dan serangan penyakit.

“Kalau sudah terserang penyakit, warnya akan pucat dan lemah. Bisa diobati. Tapi kalau sudah banyak yang terkena, sebaiknya digoreng saja. Jadi, perlu perbaikan juga dalam sistem nutrisi dan kebersihan,” ucap Bayu.

Penyakit yang biasa ditemui dalam hubungannya dengan nutrisi dan praktik pemeliharaan adalah Red-body disease, Milky Disease, Black gill Disease, Big Head Sydrome dan Separate Head Syndrome.

Ketua Himpunan Pembudidaya Ikan Laut Indonesia (Hipilindo), Efendi, menyatakan dirinya telah mencoba membudidayakan lobster sekitar 10 tahun, dan ia yakin industri lobster siap maju bersaing dengan Vietnam.

“Daya serap BL di Indonesia itu bisa sepuluh kali lipat dari daya serap Vietnam. Karena luas wilayah kita jauh lebih luas dibandingkan Vietnam. Kalau masalah pasar, itu nanti kita akan minta pada PDS. Belum ditambah dengan konsumsi lokal kita sendiri,” kata Efendi.

Efendi menegaskan, teknologi pembudidayaan lobster bukanlah teknologi rumit, dan Indonesia juga terdukung oleh karakteristik wilayahnya.

“Yang penting itu salinitas tinggi, kedalaman minimal 15 meter dan harus ada arusnya. Sarana Indonesia itu jauh lebih bagus dibandingkan Vietnam, bahkan lebih ramah lingkungan,” tegasnya.

Yang diharapkan oleh para pembudi daya, menurutnya, adalah kemudahan dan kredit modal kerja.

“Itu saja sudah cukup, kemudahan, regulasi dan biaya transportasi saja. Di sini peran pemerintah. ROI saya itu sudah 60 persen dengan masa panen setahun sekali. Jauh lebih cepat dibandingkan kerapu, yang membutuhkan waktu dua tahun,” pungkasnya.

Lihat juga...