Rohimin, Atlet Disabilitas Bekasi yang Sehari-hari  Seorang Juru Parkir

Editor: Mahadeva

BEKASI – Rohimin (39), kesehariannya merupakan juru parkir di depan STMIK Bani Saleh, jalan Hasibuan Kota Bekasi, Jawa Barat. Siapa sangka, juru parkir tersebut, merupakan salah satu atlet disabilitas.

Rohimin kerap mewakili wilayahnya, dalam kejuaraan olahraga khusus peyandang disabilitas. Lelaki yang akrap disapa Boim, sejak 2010 telah mewakili Bekasi di berbagai kejuaraan di Indonesia. Kendati demikian, Dia mengeluhkan minimnya perhatian daerah kepada mereka sebagai penyandang disabilitas. “Saya sering mewakili Kota Bekasi untuk kejuaraan khusus disabilitas untuk pertandingan khususnya di cabang olahraga volly duduk, catur dan angkat besi,” jelas Boim, kepada Cendana News, Jumat (1/11/2019).

Sebagai atlet, Boim tidak pernah latihan khusus seperti volley atau pun angkat besi. Kecuali catur, yang setiap minggu pasti latihan dengan tetangga atau teman di dekat rumah tinggal. Dia mengaku selalu siap jika sewaktu-waktu dipanggil untuk mengikuti pertandingan dalam kejuaraan khusus disabilitas. Namun demikian, Dia memaklumi karena sarana olahraga untuk penyandang disabilitas di Kota Bekasi masih sangat minim. Jangankan untuk disabilitas, sarana olahraha buat yang normal saja kondisinya masih sangat terbatas.

Boim menyebut, selama ini KONI Kota Bekasi selalu memberi perhatian jika ada pertandingan kejuaraan. Bahkan di pertengahan September 2019 lalu, Boim ikut kejuaraan Porda Jabar di Bandung mewakili Bekasi untuk volley duduk, catur dan angkat besi. Dengan kondisi tersebut, jangan berharap atlet disabilitas Kota Bekasi bisa berhasil maksimal disetiap kejuaraan. Karena sarana atau-pun perhatian bagi atlet disabilitas masih terbatas.

Namun demikian, meski perhatian dari Pemerintah Kota Bekasi kepada penyandang disabilitas masih kecil, kondisinya masih lebih menyenangkan karena masih ada perhatian. Boim, membandingkan Kabupaten Bekasi, yang perhatiannya besar, tetapi tidak sampai ke atlet. “Saya memang belum pernah juara untuk setiap pertandingan. Paling masuk lima besar untuk catur. Tapi senang saja ikut, karena kami berkumpul semua seperti orang normal,” tegasnya.

Saat mengikuti Porda di Bandung, Boim mendapat uang saku untuk catur sebesar Rp500 ribu. Sedangkan dari volley duduk mendapat uang saku Rp300 ribu. Uang tersebut cukup besar dan bisa untuk menambah uang dapur keluarga.

Menggunakan tongkat dari kayu yang telah dimodifikasi, Boim mengakui perhatian pemerintah minim. Boim berharap, Kota Bekasi membuat event reguler dibidang olahraga setiap bulan. “Sekarang even di Bekasi ini semua untuk yang normal, seharusnya ada giat khusus secara rutin bagi penyandang disabilitas. Kami juga ingin berkumpul, bertanding layaknya yang normal. Kami juga bisa tapi mungkin karena jarang di beritakan saja,” tukasnya.

Boim berharap, di 2020 bisa di bawa ke Papua untuk mewakili daerah Jawa Barat diajang PON.”Doakan saja mas, semoga 2020 bisa ke Papua,” pungkasnya.

Lihat juga...