Indonesia-Tiongkok, Teken Kerja Sama Jaminan Keamanan Ekspor-Impor

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Indonesia dan Tiongkok resmi menandatangani Perjanjian Kerja Sama tentang Jaminan Keamanan dalam Impor dan Ekspor Produk Akuatik dari kedua negara.

Kerja sama tersebut dilaksanakan melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) oleh Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM), Rina bersama Wakil Menteri General Administration of Customs of China (GACC) Zhang Jiwen, disaksikan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, di Kantor KKP, Rabu (27/11/2019).

Melalui penandatanganan kerja sama tersebut Indonesia dan Tiongkok saling mengakui kesetaraan sistem jaminan mutu dan keamanan produk perikanan. Kedua negara juga akan berbagi informasi tentang ketentuan perundangan dan standardisasi, sistem inspeksi perkarantinaan, serta metodologi dan prosedur ekspor-impok produk akuatik.

Selain itu, Indonesia dan Tiongkok juga akan bekerja sama dalam meningkatkan teknologi pada metodologi pengujian laboratorium.

Dalam kesempatan ini, Wakil Menteri GACC Zhang Ziwen mengatakan, Tiongkok merupakan konsumen produk laut yang terbesar di dunia.

Pada tahun 2018, Tiongkok mengimpor lebih dari 5 (lima) juta ton produk kelautan dan perikanan. Ia menyatakan, negaranya tengah terus membuka diri untuk meningkatkan impor perdagangan, termasuk produk kelautan dan perikanan.

“Negara Tiongkok tidak akan hentinya membuka diri. Tiongkok akan meningkatkan impor dan ekspor perdagangan, terutama perdaganan komoditas berkualitas tinggi,” ujarnya.

Zhang menyebut, selama ini Indonesia telah berhasil merealisasi perdagangan sejumlah komoditi perikanan untuk masuk ke pasar Tiongkok.

Hal ini diperkuat dengan data perdagangan hasil perikanan Indonesia ke Tiongkok pada tahun 2018 yang mencapai surplus sebesar USD580.583.364, dengan rincian nilai eskpor sebesar USD675.981.147 dan impor USD95.397.783. Kendati demikian, Zheng meyakini bahwa perdagangan ini dapat ditingkatkan ke depannya.

“Kami ingin bergandeng tangan dengan negara lain. Bekerjasama dan berinovasi untuk menuju tatanan masyarakat yang aman, makmur, dan berdaulat di Asia. Kami yakin dengan upaya dari kedua negara, kerja sama kita akan semakin lancar dan semakin kelihatan hasilnya,” ucap Zheng.

Menteri KP Edhy Prabowo menyambut baik hal ini. Ia mengatakan, Indonesia merupakan negara dengan potensi kelautan dan perikanan yang besar. Namun, saat ini Indonesia baru mengekspor beberapa jenis komoditas perikanan seperti cumi, lobster, rumput laut, dan telur ikan terbang ke Tiongkok.

Menurutnya, potensi perdagangan produk kelautan dan perikanan antara Indonesia dan Tiongkok masih sangat besar.

Di satu sisi, Indonesia memiliki begitu banyak produk kelautan dan perikanan. Sementara di sisi lainnya, Tiongkok membutuhkan banyak komoditi kelautan dan perikanan untuk memenuhi kebutuhan pasarnya.

“Kami masih punya banyak peluang-peluang lain. Ada 629 perusahaan yang bisa melakukan ekspor produk perikanan ke Tiongkok. Saya yakin negara Anda butuh banyak ikan,” tutur Menteri Edhy.

Selain itu, Menteri Edhy juga menyampaikan bahwa Indonesia terbuka untuk investasi di bidang industri perikanan. Tiongkok dapat menjadi salah satu investor untuk mendorong industri perikanan di Indonesia. “Peluang bisnis perikanan di Indonesia juga masih sangat besar,” ucapnya.

Dikatakan KKP akan terus membangun komunikasi yang baik dengan Pemerintah Tiongkok. “Kami akan membangun komunikasi yang baik ke depannya. Kami akan terus membuka hubungan yang saling menguntungkan dengan Tiongkok,” pungkasnya.

Lihat juga...