Petani Bawang Merah Lamsel tak Terpengaruh Kemarau

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sejumlah petani penanam komoditas bawang merah di Lampung Selatan (Lamsel) tidak terpengaruh kemarau.

Yustam, petani bawang merah di Desa Sidoasih, Kecamatan Ketapang menyebut tanaman hortikultura jenis bawang merah justru tumbuh baik saat kemarau. Pasokan air untuk penyiraman diakuinya memanfaatkan sumur gali dengan mesin pompa.

Yustam yang memanfaatkan lahan pekarangan menyebut sekitar belasan guludan dipakai untuk menanam bawang merah. Membutuhkan waktu sekitar 90 hari hingga siap panen, bawang merah miliknya tetap produktif saat kemarau.

Menghindari terik langsung matahari ia memanfaatkan naungan berupa daun kelapa, jerami dan waring. Pengaturan penyiraman membuat bawang merah miliknya tumbuh dengan baik.

Menyesuaikan jumlah lahan pada pekarangan miliknya ia menanam bibit sekitar 50 kilogram. Bibit langsung didatangkan dari Brebes,Jawa Tengah berupa true shallot sees (TSS) atau biji dengan harga Rp25.000 pe rkilogram.

Penanaman saat musim kemarau atau gadu menurutnya lebih bagus karena tanaman terhindar dari busuk daun dan hama ulat. Kunci penanaman bawang merah saat kemarau menurutnya pengaturan penyiraman air.

“Guludan yang dibuat harus selalu diberi air sesuai kebutuhan karena saya melakukan penanaman tanpa memakai mulsa, pada penggunaan mulsa bisa diterapkan sistem tetes memakai selang. Tapi saya hanya gunakan ember,” ungkap Yustam saat ditemui Cendana News, Senin (7/10/2019).

Memasuki dua bulan penanaman atau satu bulan jelang panen, perawatan intensif harus selalu dilakukan. Sebab pada masa pertumbuhan gulma rumput kawatan kerap tumbuh bersama bawang merah.

Isnainah, sang istri yang melakukan proses penyiangan gulma menyebut meski kemarau bawang merah tumbuh dengan baik. Kondisi tanah padas dan berpasir dengan campuran pupuk kandang membuat daya tahan bawang merah lebih baik.

Isnainah, melakukan penyiangan gulma rumput pada tanaman bawang merah miliknya di Desa Sidoasih, Kecamatan Ketapang Lampung Selatan, Senin (7/10/2019) – Foto: Henk Widi

Penanaman pada musim kemarau disebutnya terkendala suhu yang tinggi. Sebagai cara menjaga kelembaban guludan ia kerap melakukan proses penyiraman selama tiga kali.

Normalnya tanaman bawang merah cukup disiram dua kali sehari. Selain penyiraman gang antara guludan berbentuk siring kerap dialiri dengan air agar menjaga lahan tetap lembab.

“Tanah yang gembur tidak akan terpengaruh oleh kondisi kemarau karena perakaran bawang merah tidak terganggu,” tutur Yustam.

Meski hanya menanam sekitar 50 kilogram bawang merah ia bisa memanen sekitar 500 kilogram. Pada penanaman musim sebelumnya ia menyebut harga sedang naik mencapai Rp25.000 per kilogram. Namun satu bulan sebelum panen harga bawang merah di pasar tradisional bisa mencapai Rp20.000. Ia berharap saat panen harga kembali mencapai Rp30.000 per kilogram.

Petani bawang merah lainnya bernama Rahmat, warga Desa Tamansari Kecamatan Ketapang, mengaku kemarau bagus untuk budidaya bawang merah.

Rahmat, petani bawang merah di Desa Tamansari Kecamatan Ketapang Lampung Selatan melakukan proses penjemuran pada masa tanam kemarau atau gadu, Senin (7/10/2019) – Foto: Henk Widi

Pada sejumlah wilayah musim kemarau berimbas panen bawang merah melimpah mengakibatkan harga anjlok. Meski demikian ia menyebut proses pengeringan dan penyimpanan yang baik membuat ia bisa menjual bawang saat harga naik.

“Pengaturan pola tanam membuat petani bisa menyiasati penyimpanan agar bisa dijual saat kebutuhan meningkat,” paparnya.

Memanfaatkan lahan dengan luas sekitar setengah hektare Rahmat menyebut bisa memanen hingga 4 ton bawang merah. Selain dijual di sejumlah pasar tradisional, bawang merah dipasok oleh pengepul bersama dengan cabai merah ke Padang Sumatera Barat.

Produksi bawang saat kemarau menurutnya memiliki kualitas yang bagus karena kadar air yang rendah. Pengeringan untuk menjaga keawetan bawang merah dilakukan juga dengan menggantung bawang merah pada gudang khusus.

Penanaman bawang merah selama kemarau menurut Rahmat memanfaatkan sumur bor. Meski membutuhkan air, penanaman bawang merah tidak seboros pada penanaman padi.

Sejumlah guludan yang dijadikan media tanam kerap diberi tumpukan jerami untuk memperlambat keringnya media tanam. Rahmat mengaku masih berencana menerapkan sistem tetes pada penanaman bawang merah.

“Sistem tetes sangat cocok diterapkan saat musim kemarau karena lebih efisien namun belum saya terapkan karena lahan masih sewa,” tuturnya.

Sebagian hasil panen yang mulai dikeringkan menurut Rahmat akan digunakan untuk bibit. Penanaman pada awal Oktober diakuinya memperhitungkan kebutuhan meningkat pada Natal dan tahun baru.

Meski harga bawang merah saat ini hanya berkisar Rp20.000 hingga Rp23.000 ia berharap masa tanam berikutnya harga bisa mencapai Rp30.000 per kilogram. Sebab meski masih bisa menanam biaya operasional lebih tinggi saat kemarau terutama untuk mesin pompa dengan sumur bor.

Lihat juga...