Era Digital, Penjualan Bros di Padang Laris Manis
Editor: Mahadeva
PADANG – Perkembangan tren fashion gamis wanita, berdampak positif untuk usaha bros dan perhiasan di Padang, Sumatera Barat. Di era digital seperti saat ini , tersedia berbagai media dan ruang untuk promosi.
Hal itu membuat penjualan menjadi semakin menjanjikan. Seperti yang dilakukan penjual bros di Padang Nila. Untuk memudahkan penjualan Nila melakukan pemasaran produknya menggunakan situs belanja online dan juga media sosial. “Sebenarnya saya lebih banyak berjualan lewat online, karena transaksi terbilang cukup banyak dan dalam hitungan per-pekannya, minimal ada tiga kali pesanan yang masuk. Tapi di sisi lain, saya juga sering ikut pameran di kegiatan-kegiatan tertentu,” ungkapnya, Selasa (29/10/2019).
Harga jual bros yang tergolong murah, dilengkapi dengan berbagai model berkesan mewah, menjadikan penjualan semakin laris. Bros menjadi kebutuhan wanita pengguna hijab dan gamis. Harga yang ditawarkan mulai dari Rp5.000 hingga Rp70.000. Semuanya tergantung dari model dan ukuran, serta bahan yang digunakan untuk membuat bros.
“Kalau dijual online, kita punya minimal pemesanan. Misalnya untuk harga Rp5.000 itu minimal pesanannya itu satu paket dengan isi bros enam, jadi total harga yang dibayarkan Rp30.000 di luar ongkir (ongkos kirim). Dengan adanya cara penjualan seperti ini, membuat stok barang dengan cepat habis,” ujarnya.
Penjualan tidak dilakukan jumlah minimal ketika dilakukan secara offline seperti saat ikut pameran. Namun, untuk harga masih tetap sama dengan yang ditawarkan di penjualan secara online. Penjualan dalam sistem paket untuk pemesanan online, karena mempertimbangkan ongkos kirim. “Nah berbeda dengan datang langsung ke tempat lapak saya secara COD. Silakan mau beli berapa, satu saja, dua, atau bahkan satu kantong plastik, jelas bebas biaya lainnya. Bicara untung, sama saja, mau jual secara online maupun secara COD di momen pameran,” sebutnya.
Nila menyebut, momentum digitalisasi, membantu pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Mereka menjadi pangsa pasar yang tidak terbatas. Dan pelaku usaha memiliki dua metode pemasaran yaitu online dan offline.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatera Barat, Zirma Yusri, mengatakan, sudah seharusnya pelaku UMKM memanfaatkan teknologi untuk memasarkan produknya. Selain tidak memerlukan tempat seperti toko, pemasaran secara online, tersedia sebuah wadah yang bisa dimanfaatkan secara gratis. “Di era Industri 4.0 sekarang ini, semua orang bisa jadi pengusaha, produk UMKM-nya beragam, dengan harga yang bervariasi. Memang sudah seharusnya begitu, biar bisa terus tumuh dan berkembang. Kita jelas mendorong dan mendukung pelaku UMKM memanfaatkan berbagai media untuk pemasaran produknya,” tandasnya.
Dinas Koperasi dan UKM Sumatera Barat disebutnya, sudah beberapa kali menggelar pelatihan pemanfaatkan teknologi informasi dalam pemasaran produk. Targetnya, produk UMKM Sumatera Barat tidak hanya berputar di daerahnya sendiri. “Ke depan kita akan berupaya memberikan pelatihan lagi, karena memang ada beberapa pelaku UMKM yang belum bisa mengusai teknologi. Jika begitu, bagaimana bisa mengikuti perkembangan zaman, apabila menggunakan smartphone saja masih belum begitu baik. Jadi intinya, sumber daya manusia dari pelaku UMKM perlu ditingkat lagi,” pungkasnya.