Bukti Gempa dan Tsunami Flores Masih Terlihat Jelas di Pulau Koja Doi

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

MAUMERE — Gempa dan tsunami dahsyat yang melanda pulau Flores tanggal 12 Desember 1992 membuat ribuan bangunan mengalami kerusakan hingga menelan ribuan korban jiwa terutama di kabupaten Sikka dan Flores Timur.

La Mane Untu mantan kepala desa Koja Doi di rumahya yang juga amblas ke dalam tanah beberapa sentimeter akibat gempa dan tsunami tahun 1992 yang melanda pulau Flores. Foto : Ebed de Rosary

Dampak gempa juga membuat permukaan tanah mengalami penurunan. Dampak ini pun dirasakan oleh warga pula Koja Doi desa Koja Doi kecamatan Alok Timur, kabupaten Sikka, NTT.

“Saya tidak tahu apakah tanahnya mengalami penurunan ataukah naik. Ini terjadi karena adanya gempa dan tsunami di tahun 1992 yang kami rasakan sangat besar,” kata La Mane Untu (78) mantan kepala desa Koja Doi, Rabu (2/10/2019).

La Mane katakan, dulunya jarak lantai rumahnya dengan jendela sekitar satu meter lebih. Sejak gempa Flores, jarak jendela dan lantai rumah hanya sekitar 30 sentimeter.

Kepala desa Koja Doi sejak tahun 1967 sampai 1990 ini pun jadi bingung kenapa tiba-tiba jendelanya jadi dekat sekali dengan tanah. Dia pun menduga ini akibat dari gempa tersebut sehingga kemungkinan tanahnya amblas.

“Pagar rumah saya pun amblas ke dalam tanah bahkan hampir tenggelam semua.Makanya pagar dibangun lagi menggunakan bambu saja sama dengan pagar rumah semua masyarakat di pulau Koja Doi,” katanya.

M. Salihun warga Koja Doi lainnya pun mengakui sejak adanya gempa Flores sepertinya permukaan tanah mengalami penurunan. Beberapa rumah warga pun jendela rumahnya menjadi sangat dekat dengan lantai.

Yang parahnya kata Salihun, pintu rumah pun jadinya pendek sehingga tidak bisa dilewati. Banyak warga yang membangun kembali rumahnya namun ada yang membiarkannya saja.

“Ada satu rumah warga yang dibiarkan saja dan ditinggal pemiliknya. Kalau ada wisatawan yang datang kami tunjukan rumah ini sebagai bukti dampak gempa dan tsunami tahun 1992,” ujarnya.

Rumah kosong tersebut kata Salihun dinamakan rumah gempa. Jendela rumahnya pun sangat dekat dengan lantai dan merupakan rumah yang paling parah terkena dampak gempa.

Dirinya menduga lokasi tempat rumah berada tanahnya lebih rapuh dan lembab sehingga saat gempa tanahnya amblas lebih dalam. Beruntung banyak warga yang membangun rumah panggung sehingga tidak terlalu parah mengalami kerusakan.

“Banyak warga di pulau Koja Doi membangun rumah panggung sehingga hanya kayu penopangnya saja yang amblas ke dalam tanah. Semoga tidak ada lagi gempa dahsyat seperti tahun 1992,” ungkapnya.

Disaksikan Cendana News, hampir sebagian besar warga pulau Koja Doi membangun rumah panggung. Kebiasaan ini memang identik dengan kehidupan warganya yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan dan pelaut.

Selain itu, sebagian besar masyarakat perantau asal Bajo dan Buton di Sulawesi ini terbiasa dengan membuat rumah panggung. Sejak ratusan tahun lalu nenek moyangnya menetap di pesisir pantai dan pulau-pulau di kabupaten Sikka.

Lihat juga...