Tato, Simbol Kedewasaan Warga Komunitas Adat Lewolema NTT

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LARANTUKA — Dalam festival Lamaholot yang berlangsung di desa Bantala kecamatan Lewolema kabupaten Flores Timur, NTT, pengunjung masih melihat para perempuan dan lelaki dewasa yang mengenakan kain tenun tubuhnya dipenuhi tato.

Tato atau kenirek dalam bahasa Lamaholot merupakan salah satu identitas bagi masyarakat Lewolema di masa lalu. Pengerjaan dilakukan secara manual.

“Di masyarakat adat Lewolema sendiri, seorang yang telah ditato menandakan bahwa dirinya sudah dewasa dan sudah menikah. Dirinya sudah siap memikul tanggungjawab dalam berkeluarga,” kata Yohanes Pati Ritan, tetua adat Lewolema, Jumat (13/9/2019).

Yan mengatakan,tato juga dipercaya sebagai jimat untuk menangkal gangguan dari binatang, setan serta berbagai teluh atau ilmu hitam. Kenirek juga menandakan kesuburan dan kesempurnaan hidup.

Motif bintang misalnya, menjelaskan ketinggian dan cahaya yang selalu bersinar dan identik dengan Sang Pencipta yang selalu berada di tempat tinggi dan memberikan cahaya kehidupan.

“Pola dan motif jika dibandingkan dengan ukiran pada tiang rumah adat (Korke) serta beberapa motif kain tenun terkonsentrasi pada suatu inti yakni lingkaran dan suatu bentuk dominan yang menyerupai Salib,” ungkapnya.

Kenirek tandas Yan, dibuat secara manual menggunakan tinta yang berasal dari campuran jelagah (arang halus) dan gula tuak. Untuk memasukan tinta tersebut ke kulit tubuh, biasa dipergunakan Brengit atau sejenis duri hutan.

“Brengit disangkutkan atau dipasang pada sebatang kayu dan dicelupkan pada tinta lalu dirajah membentuk gambar-gambar utuh di bagian-bagian tubuh yang akan ditato,” bebernya.

Untuk pria terang Yan, tak banyak motif yang digunakan dan umumnya motif bintang dengan bagian tubuh yang ditato meliputi kening, dagu dan pipi bagian bawah.

“Kalau untuk perempuan, bagian tubuh yang biasanya ditato meliputi bagian samping kening, dagu, pipi,lengan, betis, punggung tangan dan mata kaki dan semuanya berwarna hitam,” tuturnya.

Ada juga kenirek pada perempuan tambah Yan, yang menguntai menyerupai kalung melingkari bagian tubuh dari punggung sampai dada dengan motif dominan bintang, roda berjeruji sisir dan beberapa motif yang belum ditemukan namanya.

“Motif-motif tersebut selalu disusun secara simetris dimana ada motif yang selalu dominan digunakan oleh banyak orang dan ada motif pribadi sesuai dengan sejarah atau identitas keluarga dan suku,” teragnya.

Musa Tukan, salah seorang perempuan yang bertato menjelaskan kenirek selain dipercaya sebagai jimat, sekaligus menjadi semacam afirmasi visual serta mistik akan kesuburan dan kesempurnaan.

“Tato pada tubuh kami percaya untuk menangkal roh-roh jahat dan memberi perlindungan bagi kita. Kami percaya kenirek memberikan kekuatan bagi kami,” ungkapnya.

Musa mengaku senang tubuhnya bisa ditato karena menjadi semacam kebanggan bagi seseorang. Dirinya pun berharap agar kenirek etnik ini tetap dipertahankan generasi muda.

“Saat ini sudah hampir tidak terlihat para perempuan dan lelaki dewasa di Lewolema ini yang tubuhnya ditato. Kalau tidak diteruskan maka warisan leluhur dan kepercayaan akan makna kenirek akan hilang,” pungkasnya.

Lihat juga...