Mahasiswa UB Manfaatkan Limbah Biogas untuk Pakan Kelinci
Editor: Koko Triarko
MALANG – Masih digunakannya pucuk tebu dan kulit kacang sebagai sumber serat pada pakan kelinci, menjadikan harga pakan konsentrat kelinci tetap mahal, sehingga sulit dijangkau oleh para peternak kelinci.
Berangkat dari permasalahan tersebut, lima mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, memproduksi pakan kelinci dengan memanfaatkan sludge dari limbah pengolahan biogas sebagal alternatif pengganti pucuk tebu dan kulit kacang sumber serat kasar.
Mereka adalah Nada Itorul Umam, Muhammad Irvan Ali, Mohammad Izza Arroziq, Agus Zulianto dan Nadella Apriani.
“Ide awalnya kita melihat banyak peternak kelinci yang kurang bisa menjangkau pakan pelet konsentrat, sehingga kita menganalisis kira-kira bahan apa yang bisa digunakan untuk menekan biaya produksi” jelas salah satu anggota, Nada Itorul Umam.

Menurutnya, kebanyakan pakan kelinci yang di jual dipasaran menggunakan pucuk tebu dan kulit kacang sebagai sumber serat. Tetapi, untuk pembelian bahan-bahan tersebut relatif mahal, sehingga menjadikan pakan yang dihasilkan juga mahal. Jika pakan yang dihasilkan mahal, maka peternak tidak dapat menjangkau pakan konsentrat tersebut, sehingga mereka memilih untuk memberikan pakan hijauan.
“Karenanya kami menghadirkan inovasi pemanfaatan sludge dari limbah pengolahan biogas, untuk sumber serat kasar yang menggantikan pucuk tebu dan kulit kacang,” jelasnya.
Sludge merupakan limbah, maka biaya untuk membeli bahan tersebut lebih murah dibandingkan pucuk tebu dan kulit kacang, sehingga bisa menekan harga produksi.
Disampaikan Nada, dengan pemanfaatan sludge bisa menekan harga sekitar 20-25 persen dari harga normalnya.
“Untuk Alfa feed, harganya 5.500 sampai 6.000 per kilogram. Namun kita sediakan kemasan 1 kg, 4 kg dan 20 kg. Dan, ketika nanti pembeliannya makin banyak, maka harga per kilogram makin murah,” sebutnya.
Sampai saat ini, Alfa Feed sudah terjual sekitar dua ton. Terdapat keunggulan pada pakan ternak Alfa Feed, di antaranya dapat meningkatkan produktivitas peternak kelinci lokal, mengurangi pencemaran akibat limbah biogas dan dapat mendukung program ‘Future of Malang’ dengan pengurangan pencemaran limbah sludge.
“Alfa Feed memiliki kandungan proksimat seperti karbohidrat, air, lemak, protein dan serat kasar yang dibutuhkan oleh kelinci,” jelasnya.
Berkat inovasi pakan kelinci Alfa Feed, Nada bersama keempat temannya berhasil menjadi juara dua bidang Agribisnis di ajang Inovasi Teknologi kota Malang 2019.