Jumlah Meninggal Akibat Gempa di Maluku Bertambah Jadi 23 Orang
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
JAKARTA — Korban meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan 6,8 SR di Ambon, Maluku terus bertambah, hingga pagi ini udah teridentifikasi sebanyak 23 orang. Di mana korban terbanyak berada di Kabupaten Maluku Tengah dengan jumlah 14 orang.
“Di Kota Ambon, sebanyak 6 orang, dan Kabupaten Seram Bagian Barat 3 orang,” kata Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo lewat keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (27/9/2019).
Agus menyebutkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat juga melaporkan bahwa lebih dari 100 orang menderita luka-luka akibat reruntuhan bangunan pascagempa.
“Di Desa Liang Kabupaten Maluku Tengah, lebih dari 100 orang mengalami luka, Ambon 5 orang dan telah mendapatkan perawatan medis. Sedangkan Kabupaten Seram Bagian Barat, 1 orang luka di Desa Waisama. Sekitar 15.000 warga masih mengungsi pascagempa dan dikarenakan rumah mereka yang rusak,” jelasnya.
Sementara itu kata Agus, kerusakan infrastruktur tidak hanya terjadi pada sektor perumahan tetapi juga fasilitas pendidikan, tempat peribadatan, perkantoran, dan fasilitas umum.
Kerusakan rumah di wilayah terdampak gempa mencapai 171 unit, dengan rincian 59 rusak berat, 45 rusak sedang dan 67 rusak ringan. Fasilitas pendidikan rusak sebanyak 5 unit, antara lain beberapa bangunan di Universitas Pattimura dan Kampus IAIN.
“Berdasarkan situasi lapangan, beberapa kebutuhan berupa makan dan non-makanan mendesak diperlukan selama penanganan darurat. Di antaranya terpal sebanyak 30.000 lembar, tenda keluarga 20 buah, popok balita, pembalut perempuan, selimut 20.000 lembar, matras 5.000 lembar, tikar 10.000 lembar, alat penerang 20.000 buah dan tandom air beserta MCK. Tenda sangat dibutuhkan mengingat wilayah Maluku mengalami hujan,” paparnya.
Sedangkan untuk kebutuhan makan sebut Agus, para penyintas membutuhkan makanan bayi sebanyak 120 paket, makanan dan minuman 20.000 paket, obat-obatan, air mineral, dan makanan siap saji. Di samping itu, pendekatan trauma healing diperlukan bagi anak-anak dan remaja.
“Pemerintah daerah setempat dibantu banyak pihak masih terus melakukan upaya-upaya penanganan darurat di lapangan. Tim kaji cepat melakukan pendataan untuk melihat secara lebih rinci kondisi di lapangan. Tim BNPB telah berada di lokasi untuk mendukung penanganan darurat,” ungkapnya.