Harga Sejumlah Komoditas Bumbu Dapur di Lamsel, Turun

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sempat mengalami kenaikan,  kini harga sejumlah komoditas bumbu dapur berangsur turun. Penurunan harga bumbu dapur disambut positif pemilik usaha kuliner tradisional.

Idayati, penjual pecel dan soto ayam di Muara Piluk, Bakauheni mengaku sebulan sebelumnya bumbu dapur jenis cabai merah, cabai rawit, bawang merah dan bawang putih naik. Kenaikan disebutnya bersamaan dengan bulan besar Idul Adha atau bulan haji.

Idayati, penjual makanan tradisional pecel dan soto yang kerap menggunakan cabai sebagai penyedap melayani pembeli di Bakauheni, Minggu (1/9/2019) – Foto: Henk Widi

Dua pekan terakhir, Idayati menyebut komoditas bumbu dapur terutama cabai merah dan cabai rawit mengalami penurunan harga. Cabai merah sebelumnya di pasar tradisional dijual dengan harga Rp50.000 turun menjadi Rp30.000 per kilogram.

Cabai rawit semula dijual Rp75.000 turun menjadi Rp60.000 per kilogram. Pasokan lancar dari sejumlah petani  ikut memicu penurunan harga.

Idayati menyebut bagi masyarakat etnis Jawa yang ada di Lampung Selatan (Lamsel), bulan Muharram atau bulan Suro jarang dipakai melakukan hajatan. Imbasnya permintaan akan bumbu dapur menurun mempengaruhi harga.

Sesuai hukum pasar ia menyebut permintaan yang menurun bisa berimbas turunnya harga. Sebagai pedagang kuliner penurunan harga membuat biaya operasional bisa ditekan.

“Dua pekan terakhir harga sejumlah komoditas bumbu mulai turun jumlah cabai yang saya gunakan untuk sambal pecel dan soto bisa lebih pedas karena harga murah,” ungkap Idayati saat ditemui Cendana News, Minggu (1/9/2019).

Kenaikan harga beberapa pekan sebelumnya menurut Ida membuat ia harus mengurangi porsi saat membuat sambal. Sebagian cabai merah dan cabai rawit dibeli pada pasar tradisional Bakauheni.

Kebutuhan cabai merah dan cabai rawit bagi masyarakat masih sangat penting. Sebab sejumlah restoran, rumah makan dan usaha kuliner kerap membutuhkan cabai.

Penurunan harga komoditas bumbu diakui oleh Aminah, pedagang pasar tradisional Pasuruan, Kecamatan Penengahan. Sejumlah bumbu dapur seperti bawang merah semula seharga Rp38.000 menjadi Rp33.000 per kilogram.

Aminah salah satu pedagang menyiapkan cabai merah di pasar tradisional Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lamsel, Minggu (1/9/2019) – Foto: Henk Widi

Harga bawang putih semula Rp40.000 turun menjadi Rp35.000 per kilogram. Kebutuhan masyarakat yang menurun ikut memicu pergerakan turunnya harga komoditas.

“Kalau permintaan turun tapi kita naikkan harga justru pedagang khawatir stok komoditas busuk, maka diturunkan saja harganya,” papar Aminah.

Puncak permintaan yang tinggi akan bumbu bawang merah, bawang putih, cabai rawit, cabai merah dipengaruhi tradisi masyarakat. Sejumlah masyarakat yang melangsungkan resepsi pernikahan pada bulan besar membuat permintaan meningkat.

Ia bahkan mengaku pernah menjual bawang merah dan bawang putih hingga lima kuintal dalam sepekan.

Penurunan sejumlah komoditas sejak dua pekan terakhir diakui Santi di lokasi yang sama. Ia memilih menyediakan stok bumbu dapur terbatas seiring penurunan harga dan permintaan.

Cuaca kemarau yang bagus untuk budidaya sayuran dan tanaman bumbu membuat produksi melimpah. Sebab pada sebagian wilayah yang masih memiliki pasokan air bagus, petani masih menghasilkan komoditas sayuran melimpah.

Santi menyebut selain sejumlah bumbu dapur, sayuran yang dijual juga mulai turun harga. Jenis sayuran yang turun harga meliputi timun semula Rp2.500 menjadi Rp1.500 perkilogram. Terong dari Rp8.000 turun menjadi Rp5.000 per kilogram.

Bayam, sawi, kacang panjang, selada, kangkung stabil pada kisaran harga Rp3.000 per ikat. Selain sayuran komoditas telur ayam tetap dijual Rp17.000 per kilogram, gula putih Rp12.000, gula merah Rp11.000 dan tepung terigu Rp13.000 per kilogram.

“Harga yang turun tentunya mempengaruhi peningkatan daya beli, meski harga turun yang penting barang dagangan yang dijual laku,” ujar Santi.

Permintaan secara kontinyu terhadap sayuran ,bumbu menurut Santi berasal dari pedagang kuliner. Menjamurnya usaha kuliner berkonsep serba sepuluh ribu (Serbu) membuat permintaan masih stabil.

Selain berjualan menetap di pasar, ia juga memiliki warung kebutuhan pokok di rumahnya untuk memenuhi pemilik usaha kuliner di sepanjang Jalan Lintas Sumatera.

Lihat juga...