Setahun Petani di Desa Grantung tak Panen karena Tikus
Editor: Koko Triarko
PURBALINGGA – Hama tikus selama musim kemarau, berkembang biak sangat cepat. Para petani di Desa Grantung, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, pun selama satu tahun ini tak bisa menikmati hasil panen, gara-gara tikus yang mengganas ini.
“Perkembangbiakan tikus di sawah-sawah sangat cepat dan jumlahnya sangat banyak, hampir tidak ada area sawah yang luput dari serangan tikus-tikus ini,” kata Sekretaris Desa Grantung, Ahmad Sukirno, Senin (26/8/2019).
Tikus-tikus tersebut membuat sarang dalam tanah yang mengering. Dengan cepat tikus akan merusak dan memakan tanaman padi yang tumbuh. Mulai dari memakan batang padi yang masih muda, hingga merobohkan batang padi yang sudah kuat dan memakan habis buliran gabah.

Menurut Ahmad Sukirno, selama satu tahun terakhir para petani di Desa Grantung menderita kerugian cukup besar. Bahkan, mereka sama sekali tidak bisa menikmati hasil panen. Kalau ada area sawah yang bisa bertahan sampai panen, jumlah panen yang diperoleh petani tidak seberapa dan sangat tidak menutup biaya operasional produksi.
Sebagian besar petani di desa tersebut, justru memilih untuk memangkas tanaman padi yang masih muda. Karena dilihat dari tanamannya, sudah tidak mungkin bisa tumbuh dengan baik.
“Banyak yang tanaman padinya dipangkas jauh sebelum masa panen, karena memang sudah tidak mungkin bisa tumbuh dengan baik. Setelah itu, diganti dengan tanaman palawija. Itu pun tak luput dari serangan hama tikus,” tuturnya.
Untuk meminimalkan serangan hama tikus, selama tiga bulan terakhir, warga Desa Grantung aktif melakukan pembasmian tikus dengan cara gopyokan. Petani dan warga desa secara sukarela berkumpul di area sawah dan melakukan kegiatan gropyokan bersama-sama. Gropyokan kadang dilakukan pagi hari dan terkadang pada sore hari.
“Dalam satu minggu, minimal dilakukan gopyokan tikus 2-3 kali, dan salam satu kali gropyokan bersama, kita bisa menangkap tikus hingga ribuan ekor, kadang seribu, terkadang sampai 2000 tikus,” kata Ahmad Sukirno.
Selama musim kemarau ini, kegiatan gropyokan tikus lebih diintensifkan, dengan harapan bisa mengurangi perkembangbiakan tikus secara signifikan. Sehingga pada Oktober nanti, petani bisa menanam padi dengan aman.