Produksi Minyak Kemiri, Kelompok ini Butuh Bantuan Pemerintah
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
MAUMERE — Sebanyak 30 ibu-ibu rumah tangga di desa Hikong, kecamatan Talibura kabupaten Sikka, NTT membuat kelompok dan melakukan inovasi. Kemiri pun diolah menjadi minyak sehingga memiliki daya jual yang tinggi.
“Kegiatan pelatihan pembuatan minyak kemiri dilakukan sejak tahun 2017,” terang Hery Siswandi, Kepala bidang Konservasi dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan kabupaten Sikka, Senin (26/8/2019).
Dikatakan Hery, pelatihan berasal dari LSM Avoco kerjasama dengan Pusat Litbang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Pihaknya melihat, kelompok Hutan Kemasyarakatan (HKm) perlu diberdayakan agar bisa meningkatkan pendapatan mereka.
“Kami melihat keterlambatan proses menjadi minyak kemiri karena terkendala modal. Selain itu, mereka masih menunggu proses kemasannya yang masih terkendala,” ungkapnya.
Hery juga meminta agar pemerintah desa Hikong bisa membantu modal untuk biaya produksinya. Kalau bisa, pinta dia, dibuatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) agar bisa berada di bawah kendali desa.
Lambertus Boli Dewa ketua Hutan Kemasyarakatan (HKm) Tuar Tanah desa Hikong mengatakan, setelah ada pelatihan dari LSM ke kelompok, para ibu rumah tangga pun tertarik dan mempraktekannya.
Dalam prakteknya, kata Lambert sapaannya, mereka merasa pengolahan minyak kemiri bisa meningkatkan ekonomi.
Hal ini jelasnya, karena perbandingan dengan menjual gelondongan, minyak kemiri jauh meningkatkan ekonomi rumah tangga.
“Makanya ibu-ibu memutuskan mengolah minyak kemiri. Sejak dari proses pelatihan ibu-ibu melakukan proses sendiri tanpa dampingan dari pihak manapun,” terangnya.
Untuk perhatian dari pemerintah, sambung Lambert, setelah adanya pelatihan belum ada bantuan dana.
“Sementara ini mereka melakukan produksi secara manual saja sehingga hasil yang diperoleh belum maksimal. Kalau ada pihak yang memberikan bantuan termasuk pemerintah, maka akan semakin bagus,” imbuhnya.
Lusia Soge ketua kelompok Kuncup Sari menjelaskan, kelompoknya terbentuk sejak awal tahun 2019 dengan anggota sebanyak 30 orang. Kelompoknya melakukan produksi minyak kemiri selama seminggu sekali setiap hari Sabtu.
“Ada juga kemiri olahan untuk bumbu dapur yang dijual satu plastik Rp30 ribu. Sementara minyak kemiri botol kecil Rp15 ribu dan besar Rp30 ribu. Kami masih menunggu terbentuknya BUMDES sehingga setelah itu kami melakukan produksi secara massal,” terangnya.
Lusi yakin usaha kelompoknya bisa berkembang sebab proses produksinya tidak terlalu sulit karena hampir mirip dengan memasak minyak kelapa.
“Berkat kami mengikuti pelatihan kami bisa mengolahnya dan mendapatkan keuntungan lebih banyak. Selama ini kelompok kami belum mendapatkan bantuan modal dan mesin,” ucapnya.
Kelompok Kuncup Sari tambah Lusi, kesulitan alat produksi supaya bisa melakukan produksi secara massal. Untuk memecahkan kemiri saja, pihaknya masih memakai alat tradisional.
“Untuk kemiri sebagai bumbu masak ukuran 250 gram seharga Rp30 ribu. Masih lebih murah sebab di pasar di kota Maumere 4 buah seharga Rp1.000. Kami optomis usaha kami bisa berkembang kalau ada bantuan pemerintah,” pungkasnya.