Gagal Total, KONI Bondowoso Persiapkan Diri Sejak Dini

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BONDOWOSO – Kegagalan Bondowoso dalam Porprov VI Jatim 2019 bulan lalu, menjadi bahasan khusus dalam Rapat Evaluasi yang digelar KONI Bondowoso.

Secara bergiliran, rapat yang dihadiri hampir seluruh perwakilan cabang olahraga (cabor) yang ada di Bondowoso tersebut, membahas kendala-kendala selama Porprov VI kemarin.

“Terutama yang menjadi penekanan adalah cabor-cabor andalan yang semula kita proyeksikan untuk menyumbang medali, tapi ternyata tidak mencapai target. Kalau untuk cabor yang masih baru, kita maklumi,” ujar M. Santoso, Ketua Bidang Pembinaan Prestasi KONI Bondowoso kepada Cendana News, Jumat (9/8/2019).

M Santoso, Ketua Bidang Pembinaan Prestasi KONI Bondowoso saat ditemui Cendana News usai rapat evaluasi hasil Porprov VI di kantor KONI Bondowoso, Jumat (9/8/2019). Foto: Kusbandono.

Evaluasi itu, lanjut Santoso menjadi lebih ditekankan lagi, karena dalam Porprov 2021, Bondowoso dipastikan menjadi salah satu tuan rumah penyelenggaraan bersama 3 daerah lain. Yakni Jember, Lumajang dan Situbondo.

“Karena kita tuan rumah, jangan sampai merosot,” lanjut Santoso. Dalam Porprov tahun ini, Bondowoso hanya meraih 3 medali perak dan 5 medali perunggu. Dengan raihan tersebut, peringkat Bondowoso melorot menjadi nomor dua dari bawah.

Menurut Santoso, sempat ada harapan untuk mendatangkan pelatih dari luar Bondowoso. Tetapi usul tersebut belum disepakati. “Karena menurut saya, yang paling penting atletnya. Seperti saya di voli, kemarin gagal dapat medali karena atlet yang kita andalkan, tidak bisa ikut,” ujar pria yang juga menjadi Ketua Harian PBVSI (Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia) Bondowoso ini.

Kendala serupa juga dialami cabor sepeda sport. “Atlet yang diproyeksikan menyumbang medali, tetapi malah masuk Puslatda, sehingga tidak boleh ikut Porprov. Karena grade sudah tinggi,” ujar purnawirawan polisi ini.

Karena itu, Santoso lebih sepakat agar pembinaan lebih diarahkan pada peningkatan sarana prasarana. “Seperti sepeda kemarin, meski pelatihnya sudah oke, kalau rantainya copot kan percuma. Juga sepatu untuk pelari misalnya,” imbuh Santoso.

Selain itu, sempat muncul usul agar bonus atlet ditingkatkan.

“Kita memang bonus alhamdulillah langsung diberikan. Tetapi dengan janji medali emas bonusnya Rp 10 juta, itu termasuk yang paling kecil dibanding daerah lain,” pungkas Santoso.

Lihat juga...