Bijaksana Memiliki Alat Kontrasepsi untuk Jaga Kualitas ASI
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
JAKARTA – Untuk menjaga kesehatan ibu dan anak, salah satu cara adalah dengan menjaga jarak kelahiran. Biasanya proses ini dilakukan dengan menjalankan program KB. Hanya ada beberapa pemahaman yang menyatakan bahwa KB itu akan mengganggu ASI.
Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, dr. Kirana Pritasari, MQIH, menyebutkan, bahwa pemahaman ini sebetulnya tidak salah.
“Tapi juga tidak sepenuhnya benar. Karena ada KB yang tidak mengganggu kualitas ASI,” kata dr. Kirana saat temu media di Kementerian Kesehatan Jakarta, Jumat (2/8/2019).
Untuk mengetahui mana program KB yang cocok, dr. Kirana mengimbau pasangan yang baru memiliki anak untuk berkonsultasi dengan petugas kesehatan.
“Para ayah dan ibu harus mengetahui, bahwa KB itu ada yang alami ada yang menggunakan kontrasepsi,” ujarnya.
Ia menyebutkan, menyusui adalah salah satu KB alami.
“Menyusui eksklusif itu KB alami atau sering disebut metode amenorhoe laktasi. Jadi jika ibu belum haid, usia bayi hingga enam bulan dan proses menyusui dilakukan maksimal empat jam sekali, maka ini akan jadi KB alami,” urainya.
Atau, KB alami lainnya adalah dengan menggunakan cara kalender.
“Kalau menggunakan kontrasepsi, pilihannya bisa menggunakan kondom atau IUD,” ujar dr. Kirana.
Jika ingin menggunakan pil atau suntik, harus dipilih yang hanya mengandung satu hormon yaitu progestin.
“Kalau yang dua hormon, progesteron estrogen, ini berpotensi mengganggu kualitas ASI,” katanya lebih lanjut.
Contoh yang satu hormon adalah pil progestin mini atau suntik KB progestin yang dilakukan enam minggu pasca-melahirkan dan diulang setiap 12 minggu.
“Untuk mengetahui keuntungan dan kelebihan dari masing-masing produk KB, ayah dan ibu harus berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Lalu memilih yang paling nyaman untuk ayah dan ibu,” pungkasnya.