Batik Ciprat, Banyak Diburu Kolektor Karena Unik
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
PURBALINGGA – Batik sudah menjadi ciri khas dari beberapa kabupaten di Jawa Tengah, mulai dari batik Banyumas, batik Pekalongan dan lainnya.
Namun, ada yang khas dari batik besutan salah satu pelaku bisnis batik di Kabupaten Purbalingga, yaitu batik ciprat. Batik ini banyak diburu kolektor batik, karena motifnya dan perpaduan unik yang ditampilkan.
Pencetus batik ciprat di Purbalingga, Mulyono, menuturkan, hasil batik ciprat yang abstrak, justru memberikan kesan unik dan mewah. Batik ini dibuat dengan memadukan teknik ciprat bersama batik tulis. Perpaduan kedua teknik membatik ini ternyata cukup banyak diminati pasar.

“Saya pernah membuat batik ciprat yang dipadukan dengan batik tulis serta teknik melukis, motifnya cukup sulit dan alhamdulillah laku dibeli oleh kolektor batik dari Jakarta dengan harga Rp 20 juta,” tutur pelaku bisnis batik dari Desa Karangtalun, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga ini, Selasa (27/8/2019).
Lebih lanjut Mulyono menuturkan, ia belum lama mengembangkan batik ciprat ini, dengan dibantu anaknya, Kurniawan yang memang lihai melukis. Meskipun begitu, ia berkeinginan menjadikan batik ciprat ini menjadi ciri khas batik dari Desa Karangtalun.
Kemahirannya dalam teknik batik ciprat, ia tularkan kepada ibu-ibu di desanya. Dan hasil dari batik ciprat dijual di galeri batik miliknya. Keunikan dan proses pengerjaan yang sedikit rumit serta memakan waktu menjadikan batik motif ciprat maupun lukisan yang dihasilkan memiliki harga yang cenderung lebih mahal dari batik umumnya.
Harga yang dipatok oleh Mulyono berkisar di angka Rp250 ribu hingga Rp 250juta tergantung dengan lama dan tingkat kesulitan batik yang dikerjakan.
Mulyono mencontohkan, batik motif relief candi Borobudur yang digarap hampir selama satu bulan dengan teknik lukis dan ciprat dibandrol pada kisaran harga Rp5 jutaan.
Mulyono mengaku batik hasil karyanya banyak memadukan teknik dalam kesenian khususnya seni rupa. Namun, yang paling unik adalah pengerjaan batik dengan cara menyipratkan tinta malam ke kain putih hingga membentuk motif dan pola yang indah.
“Ini caranya diciprat-cipratkan ke kain putihnya. Jadi kuasnya dicelupkan ke malam (tinta), lalu dikebas-kebaskan dengan tidak begitu keras. Nanti motif bisa kita arahkan sesuai dengan yang kita inginkan,” jelasnya.
Saat ini, Mulyono sudah memiliki puluhan pekerja yang sebagian besar perempuan di desanya. Mereka diajari membuat batik ciprat dengan praktik langsung, untuk memenuhi permintaan yang terus berdatangan.