Warga Sekitar JTTS Diminta tak Gembalakan Ternak di Area Dalam Tol

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Hingga kini, masih ditemukan adanya hewan ternak di area pagar dalam tol di sejumlah titik Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS). Meski sudah dilakukan pemagaran dengan beton dan kawat berduri, namun sebagian hewan ternak, seperti kambing dan domba masih bisa lolos. Kondisi demikian dinilai sangat membahayakan pengguna jasa atau pengedara. Risiko ternak tertabrak bisa terjadi, karena kecepatan kendaraan di tol rata-rata di atas 60 Kilometer per jam.

Hanung Hanindito, Kepala Cabang PT Hutama Karya ruas Bakauheni-Terbanggi Besar, mengatakan, pihaknya sudah kerap melakukan sosialisasi larangan memasukkan atau menggembalakan ternak ke dalam area tol. Namun, hingga kini masih ada warga yang membandel.

Menurutnya, hewan ternak yang dalam kondisi tertentu masuk ke jalan tol sangat membahayakan pengguna jasa. Risiko ternak tertabrak bisa terjadi, karena kecepatan kendaraan di tol rata-rata di atas 60 kilometer per jam.

“Solusinya, petugas safety car melakukan patroli dan aktif memeriksa area yang dekat dengan perkampungan warga dan berpotensi masih adanya ternak yang masuk dengan sendirinya, atau sengaja digembalakan oleh pemiliknya,” terang Hanung Hanindito, saat dikonfirmasi Cendana News, Jumat (26/7/2019).

Hanung Hanindito, Kepala Cabang PT Hutama Karya, pengelola JTTS ruas Bakauheni-Terbanggibesar, -Foto: Henk Widi

Menurutnya, saat petugas menemukan ternak ada di area pagar tol, pemilik diminta untuk mengeluarkannya. Sebab, sebagian ternak yang digembalakan tanpa pengikat tambang sangat membahayakan ketika masuk jalan tol. Petugas bahkan telah mendatangi pemilik ternak, di antaranya di Stationing (STA) 15 Desa Tetaan, STA 18 Desa Pasuruan, STA 21 Desa Kuripan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan.

Pihaknya pun telah memasang papan imbuan agar tidak menggembalakan ternak di area tol di sejumlah titik.

Ia mengatakan, pemilik ternak masih bisa menggembalakan ternak di luar pagar tol, dengan tali tambang sebagai pengikat. Pemilik juga masih bisa mendapatkan sumber pakan di dalam area tol dengan cara mengarit. Namun, ia menganjurkan untuk mengandangkan ternak, dan menananam sumber pakan alami jenis rumput gajahan.

“Sosialisasi kepada masyarakat pemilik ternak tidak hanya sekali dilakukan, sudah dalam kurun setahun sejak tol Sumatra difungsikan dan dioperasikan,” tegas Hanung Hanindito.

Ia juga mengaku berterima kasih kepada masyarakat pemilik ternak yang memiliki kesadaran tidak memasukkan hewan ternaknya ke area dalam tol. Sebab, risiko ternak yang tertabrak kendaraan bukan menjadi tanggung jawab pengelola jalan tol.

Sementara itu, Bambang, warga Penengahan, mengakui dalam kondisi tertentu hewan ternak bisa masuk ke area tol, terutama yang tidak diberi tali. Potensi ternak masuk ke dalam tol terjadi pada jenis kambing dan domba. Selain itu, tidak menutup kemungkinan kerbau dan sapi sengaja dimasukkan pada area dalam pagar tol.

“Sangat berbahaya dan sebagian sudah tahu kalau ternak ditabrak kendaraan di dalam tol tidak memperoleh ganti rugi, malah didenda,” papar Bambang.

Bambang mengaku memilih mengandangkan ternak sapinya. Sistem kandang dengan mencarikan pakan hijauan dari menanam rumput gajahan, membuatnya tidak perlu menggembalakan ternak. Lagipula, lahan penggembalaan yang sudah berkurang usai pembangunan JTTS ruas Bakauheni-Terbanggibesar, memang membuatnya harus kreatif. Saat kemarau, selain pakan hijauan ia juga memanfaatkan jenjet jagung sebagai asupan pakan tambahan.

Lihat juga...