Petani Jagung di Lamsel Siasati Kemarau dengan Pola TOT

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG  – Menyiasati musim kemaru tahun ini, sejumlah petani di Desa Banjarmasin, Penengahan , Lampung Selatan, menanam komoditas jagung dengan pola TOT. Artinya, Tanpa Olah Tanah.

Kendi, salah satu petani di Desa Banjarmasin, mengatakan, pola TOT dilakukan tanpa melakukan pembajakan tanah. Penyiapan lahan hanya dilakukan dengan membersihkan lahan menggunakan herbisida, agar gulma tidak tumbuh.

Namun, herbisida yang kurang maksimal mencegah tumbuhnya beragam jenis gulma, membuat jenis rumput tertentu seperti rumput kawatan, tetap harus dibersihkan dengan cangkul.

“Saat kemarau, penanaman jagung bisa maksimal karena risiko gulma rumput yang minim, tanpa harus melakukan proses pembajakan tanah,” terang Kendi, Kamis (25/7/2019).

Kendi, jagung menggunakan bibit tahan cuaca panas dan pola TOT. -Foto: Henk Widi

Selain herbisida, kata Kendi, penyiapan lahan pada musim gadu (kemarau)  juga dilakukan dengan menaburkan dolomit atau zat kapur sebelum proses penanaman.

Untuk lebih memaksimalkan hasil panen, pemilihan bibit jagung juga menjadi penting. Kendi mengaku pada musim kering ini lebih memilih bibit jagung varietas NK 77, yang menurutnya memiliki bobot cukup baik saat dijual dalam bentuk pipilan.

“Masa tanam gadu dengan pola penanaman masih tanpa olah tanam, saya gunakan benih yang bermutu dengan harapan hasil panen maksimal,” ungkap Kendi.

Kendi menanam jagung pada lahan seluas dua hektare, dan menghabiskan empat kampil atau 20 kilogram bibit jagung. Sebelumnya, pada masa tanam akhir 2018, ia menanam bibit jagung sebanyak 13 kilogram, dan mendapatkan 6 ton jagung. Varietas yang digunakan berupa NK Perkasa.

Namun pada awal 2019, ia mengaku hanya mendapatkan hasil panen sebanyak 3 ton, karena benih yang kurang bermutu.

Pada masa tanam sebelumnya pula, pada musim kemarau, ia mengaku mendapatkan 150 karung jagung. Hasil ini jauh lebih sedikit dibandingkan hasil panen pada musim penghujan, yang mampu mencapai hasil sekitar 250 karung.

Menurut Kendi, pola TOT membuat biaya pengolahan lebih efesien. Pasokan air untuk tanaman jagung selama kemarau hanya dilakukan setiap tiga hari. Penyiraman bisa lebih sering dilakukan, untuk mempercepat pertumbuhan tanaman jagung saat berusia sekitar dua pekan. Proses penyiraman dilakukan dengan sistem ngelep seperti pada penanaman padi.

Lihat juga...