Harga Sayuran di Tingkat Petani Melonjak Tajam

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Kemarau yang melanda sebagian wilayah Lampung berdampak kepada harga sayuran di pasar tradisional. Faktor kelangkaan pasokan akibat kebutuhan air menjadi pemicu kenaikan harga.

Wawan Kurniawan, petani di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel) menyebut harga naik dua kali lipat dibanding hari biasa. Sayuran yang naik di antaranya kacang panjang, oyong, terong, mentimun,  sawi dan cabai rawit.

“Jenis terong ungu yang semula hanya Rp5.000 per kilogram di tingkat petani naik menjadi Rp8.000 per kilogram. Kenaikan harga terong ungu sekitar Rp3.000 tersebut membuat harga di pasaran mencapai Rp12.000,” sebutnya saat dikonfirmasi Cendana News, Sabtu petang (13/7/2019).

Selain terong ungu kenaikan terjadi pada oyong atau gambas, kacang panjang, mentimun semula dijual Rp4.000 di tingkat petani mencapai Rp7.000 dan dijual pada pasar tradisional sekitar Rp10.000. Harga sawi, bayam, kemangi, kangkung hanya naik Rp1.000 per kilogram dari harga semula Rp2.000 menjadi Rp3.000 per ikat.

“Kenaikan sejumlah harga sayuran merata hampir di semua pasar tradisional menjadi angin segar bagi petani saat kemarau, meski tidak menanam padi masih bisa mendapat hasil dari sayuran,” terang Wawan Kurniawan.

Wawan Kurniawan salah satu petani penanam sayur di desa Kelaten,Kecamatan Penengahan,Lampung Selatan. Foto: Henk Widi

Petani lain, Sarijan juga menyebut jenis sayuran yang memberinya keuntungan adalah mentimun. Selain terong ungu, mentimun mulai naik, semula Rp3.000 menjadi Rp5.000 per kilogram. Sarijan mengaku harga yang naik memberi semangat untuk memperoleh hasil lebih baik dari musim hujan.

“Kini masa kejayaan petani sayur meski hanya sebentar namun peluang terbuka saat harga naik,” papar Sarijan.

Kenaikan harga di pasaran juga diakui Jumilah pedagang sayuran di pasar tradisional Pasuruan. Kenaikan cukup tinggi terjadi pada bumbu jenis cabai rawit, semula Rp45.000 menjadi Rp65.000 sebagian bisa Rp80.000 per kilogram.

“Petani sayuran selama ini kerap mengeluh harga anjlok kini saatnya mereka menikmati hasil,” tutup Jumilah.

Lihat juga...