Gaet Wisatawan, Taman Nasional Kelimutu Terus Berbenah
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
ENDE – Taman Nasional Kelimutu (TN Kelimutu) terus berbenah dari tahun ke tahun. Pembenahan dilakukan agar kunjungan wisatawan ke lokasi wisata danau tiga warna Kelimutu ini bisa terus meningkat dan memberikan pendapatan baik bagi pengelola maupun warga sekitar.
“Taman Nasional Kelimutu memang terus berbenah untuk menggaet wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Namun hendaknya memperhatikan juga kesejahteraan masyarakat di desa penyangga,” pinta ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Nusa Bunga, Philipus Kami, Minggu (21/7/2019).
Dikatakan Lipus sapaannya, pihaknya bersama dengan masyarakat adat di 24 desa serta pihak TN Kelimutu bulan Mei 2019 telah duduk bersama. Semua pihak berdiskusi membahas pariwisata kawasan TN Kelimutu dan wilayah penyangga.
“Membanjirnya wisatawan ke TN Kelimutu hendaknya juga berimbas terhadap pendapatan masyarakat di kawasan penyangga. Ada wisata adat, budaya, alam dan ekowisata yang bisa dikembangkan,” tuturnya.
Lipus tak menampik sudah banyak hal dilakukan pihak TN Kelimutu untuk berkolaborasi bersama masyarakat adat sekitar kawasan untuk mengembangkan pariwisata. Ritual adat memberi makan leluhur di danau Kelimutu pun telah dijadikan sebagai wisata budaya.
“Kita mengharapkan kerjasama ini terus berlanjut dan masyarakat adat terus dilibatkan dalam memajukan wisata di kawasan TN kelimutu dan wilayah penyangga,” harapnya.

Kepala Taman Nasional Kelimutu, Agus Sitepu menjelaskan, TN Kelimutu awal April 2019 meluncurkan 2 buah buku. Buku pertama berjudul “Menjelajah Keindahan dan Keajaiban Kelimutu”.
Sementara buku kedua mengambil judul “Manusia dan Budaya di Sekeliling Taman Nasional Kelimutu”. Di dalamnya digambarkan juga mengenai wisata budaya dan alam di kawasan penyangga, desa-desa di sekitar TN Kelimutu.
“Kedua buku ini kami luncurkan untuk menggaet wisatawan dan meningkatkan kunjungan ke TN Kelimutu. Selain mempromosikan TNK, buku ini pun memuat adat, budaya dan tempat wisata lainnya di kawasan sekitar TNK yang telah dikembangkan,” tuturnya.
Agus menyebutkan, jumlah wisatawan yang datang ke TN Kelimutu tahun 2017 sekitar 91 ribu dan tahun 2018 terjadi penurunan menjadi 87 ribu. Penurunan tersebut ujarnya disebabkan ada berbagai faktor seperti perbaikan jalan menuju kawasan TNK dan berbagai pembenahan.
“Meski jumlah kunjungan menurun, tapi pendapatan tiketnya naik dari Rp3,5 miliar di tahun 2017 menjadi Rp3,8 miliar di tahun 2018. Ada kenaikan pendapatan di wisatawan mancanegara,” paparnya.
TN Kelimutu kata Agus, menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara harus terus meningkat. Kenapa demikian, dirinya menyebutkan karena wisatawan mancanegara waktu kunjungannya lebih lama dan uang yang dibelanjakan pun lebh banyak.
“Target kunjungan kita memang wisatawan mancanegara sebab wisatawan lokal yang datang, 80 persen berasal dari kabupaten Ende atau Sikka. Sehingga secara realistis kita targetkan meningkatkan wisatawan mancanegara dan ada kenaikan sekitar 10 persen,” terangnya.
Kawasan Taman Nasional Kelimutu (TNK) yang terletak di Kabupaten Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur, memiliki area yang tidak terlalu luas.
Sesuai SK Menteri Kehutanan Nomor 675/KPTS-II/97 luasnya 5.356,5 hektar. Garis batasnya meliputi 241 pal batas dengan panjang 48,423 km. Ia termasuk salah satu taman nasional dengan luasan terkecil di Indonesia.
Wilayahnya berdampingan dengan 24 desa dan satu kelurahan yang ada di lima kecamatan, yaitu: Ndona, Wolojita, Kelimutu, Detusoko dan Ndona Timur. Wisata budaya, adat, alam dan ekowisata di kawasan ini pun bisa dijual untuk menggaet wisatawan.