Mewujudkan PHBS di Wilayah Pasang Surut Butuh Perjuangan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — “Kawasan pasang surut air laut menjadi kendala bagi warga untuk mempertahankan kebersihan lingkungan, karena perkampungan kerap tergenang air, berpotensi menjadi sarang nyamuk dan bibit penyakit,” ungkap Eka Martini, Amd. Keb, bidan desa di Dusun Kuala Jaya, Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan saat berbincang dengan Cendana News.

Sebagai wilayah yang merupakan wilayah ujung Lampung Selatan (Lamsel) dusun tersebut berada di Muara Sungai Sekampung. Salah satu sungai  yang merupakan perbatasan dengan kabupaten Lampung Timur. Meski hanya satu dusun, warga Kuala Jaya tercatat terdiri dari 350 kepala keluarga (KK) dengan kurang lebih 1.500 jiwa.

Akses yang hanya bisa dilalui melalui sungai dan jalan desa lebih dari delapan kilometer membuat wilayah tersebut sulit diakses. Sebagian besar warga berprofesi sebagai nelayan, petambak dan pekerjaan lain. Pada musim hujan dan pasang laut tertinggi, banjir rob, kawasan tersebut kerap tergenang air.

“Butuh perjuangan untuk mengajak masyarakat menjaga kebersihan lingkungan,” katanya, Jumat (21/6/2019).

Sebagai bidan desa, selain berkoordinasi dengan UPT Puskesmas rawat inap Sragi, ia masih terus melakukan sosialisasi agar warga menjaga kesehatan. Peningkatan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan gotong royong Jumat bersih menjadi kegiatan utama.

“Ada sekitar lima kasus positif DBD, segera ditangani pada layanan kesehatan pratama dan dilakukan fogging di sekitar rumah warga,” ungkap Eka Martini.

Bidan Eka Martini memperlihatkan kondisi tambak di wilayah Dusun Kuala Jaya Desa Bandar Agung yang dipenuhi genangan air dan terpengaruh pasang surut air laut. Foto: Henk Widi

Sosialisai diakuinya gencar dilakukan bagi para ibu rumah tangga yang lebih dominan kerap ada di rumah. Sebab bagi para laki laki, sejak subuh sebagian bekerja sebagai nelayan di laut. Selain pengasapan atau fogging, pembagian cairan abate juga telah dilakukan. Selain itu warga juga dianjurkan memelihara ikan pada bak penampungan air menjadi solusi agar tidak muncul jentik nyamuk.

Sebagai kawasan pasang surut, persoalan sampah kiriman menjadi perhatian. Sebab meski warga sudah menjaga kebersihan, namun sampah kiriman saat banjir rob berasal dari sungai Sekampung dan laut Jawa.

“Selama sebelas tahun saya bertugas sebagai bidan, baru tahun ini ada kasus demam berdarah sehingga ini menjadi evaluasi bagi kami agar meningkatkan kebersihan lingkungan,” cetus Eka Martini.

Kepala Dusun Kuala Jaya, Sarifudin, menyebut hingga Kamis (20/6) ada sebanyak 7 warganya dibawa ke Puskesmas dan pusat layanan kesehatan. Adanya warga yang terkena DBD menurut Sarifudin baru kali pertama di wilayah tersebut.

Sebagai upaya penyadartahuan akan penyakit akibat lingkungan, sosialisasi melibatkan Dinas Kesehatan terus dilakukan. Selain penanganan bagi warga yang terkena DBD, pembersihan lingkungan kembali digalakkan melalui Jumat Bersih. Selanjutnya upaya menyadarkan masyarakat terus dilakukan dengan pembuatan kotak sampah agar tidak ada warga membuang sampah sembarangan.

Lihat juga...