Jakarta Bangun Pusat Studi Persampahan Nasional di Bantargebang
JAKARTA – Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, yang ada di Kota Bekasi, Jawa Barat, diproyeksikan menjadi destinasi studi persampahan nasional.
“TPST Bantargebang saat ini tengah berbenah, terutama kami ada kegiatan strategis daerah sebagai fokus Gubernur DKI terhadap masalah sampah,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) TPST Bantargebang, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto Jumat (21/6/2019).
Menurutnya, Pemprov DKI sedang melakukan rehabilitasi Kantor UPT yang ada di sisi barat lingkungan TPST Bantargebang. Bangunan yang berdiri di atas lahan 700 meter persegi (m2) tersebut, tengah diratakan dengan tanah. Bangunan baru nantinya selain difungsikan sebagai Kantor UPT, juga akan dijadikan pusat riset dan edukasi persampahan skala nasional.
Asep mengatakan, latar belakang ditetapkannya TPST Bantargebang sebagai destinasi studi persampahan adalah, tingginya okupansi pelajar yang berkepentingan dengan segala informasi berkaitan sampah. TPST Bantargebang yang berdomisili di tiga wilayah kelurahan yakni Ciketing Udik, Cikiwul, dan Kelurahan Sumurbatu, memiliki luas 110,3 hektare. Saat ini menampung sampah eksisting DKI sejumlah 26 juta meter kubik (m3).
Sementara sampah yang didistribusikan per harinya berkisar rata-rata 7.452 ton. Volume itu mengalami tren peningkatan setiap tahun, antara 400 hingga 1.000 ton. Komposisi sampah tersebut, 33 persen sampah plastik, sembilan persen kain, tiga persen kulit atau karet, sampah B3 empat persen, sisa makanan 39 persen, kayu atau rumput empat persen, kertas empat persen, dan jenis lainnya empat persen.
Sampah yang terkumpul sejak 1989 itu terdiri atas 74,5 persen landfill dan sisanya 25,5 persen prasarana seperti jalan masuk, kantor, dan instalasi pengolahan Lindi. Luas landfill di lahan milik Pemprov DKI itu terbagi atas Zona I seluas 18,3 hektare, Zona II 17,7 hektare, Zona III 25,41 hektare, Zona IV 11 hektare, Zona V 9,5 hektare dan 28,39 hektare lainnya diperuntukan bagi fasilitas pengolahan sampah.
Rata-rata okupansi pelajar pada jadwal kunjungan yang ditetapkan pada Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis setiap pekannya, berkisar tiga hingga empat rombongan. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan internasional.
Khusus pada hari Jumat diliburkan, untuk mengistirahatkan pegawai yang melakukan pendampingan studi. “Satu rombongan bisa mencapai 40 orang pelajar dari jenjang pendidikan sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, hingga perguruan tinggi,” rincinya.
Tercatat, jadwal kunjungan per-Juni hingga Agustus 2019, sudah terisi penuh. “Masyarakat ingin tahu pengelolaan sampah di TPST Bantargebang seperti apa. Tidak hanya pelajar SD, SMP dan SMA hingga mahasiswa, sampai perusahaan swasta asing dan regional di Jakarta dan sekitarnya juga berdatangan ke TPST,” ujarnya.
Mereka melakukan studi terhadap sejumlah fasilitas pengolahan sampah seperti Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), rumah komposting, area pertambangan refused derived fuel (RDF), serta landfill. Melalui penyediaan fasilitas gedung studi yang representatif, diharapkan kegiatan kunjungan ke TPST menjadi lebih lengkap. (Ant)