Balikpapan Uji Coba Bus Berbayar Botol Plastik

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

BALIKPAPAN — Menekan jumlah sampah di Kota Balikpapan, Pemerintah setempat meluncurkan inovasi baru,  yakni bus berbayar botol plastik. Uji coba yang melibatkan pelajar rencananya diterapkan hingga 19 Juli mendatang dan dilakukan khusus di kawasan Balikpapan Timur.

Adapun rute bus berkapasitas 30 orang itu yaitu pada pagi hari, start dari UPT Pengujian Kendaraan Bermotor (PKB) Batakan ke arah embarkasi haji. Sedangkan sore harinya, dimulai dari UPT PKB ke arah SMKN 1 Balikpapan lalu memutar menuju embarkasi haji.

“Program itu merupakan salah satu inovasi untuk mengurangi sampah. Selain membantu pelajar, nantinya plastik botol bekas itu akan ditukar di bank sampah sekolah,” kata Kepala Dinas Perhubungan Balikpapan, Sudirman Djayaleksana, Rabu (26/6/2019) saat ikut dalam bus ujicoba tersebut.

Dikatakannya, setelah uji coba bus sekolah ini akan diluncurkan bertepatan pada hari Kemerdekaan 17 Agustus.

“Sebenarnya bus ini gratis. Tapi kami mencoba agar siswa dan sekolah peduli lingkungan dan sampah plastik, jadi kami modifikasi seperti itu. Makanya siswa harus membawa sampah botol plastik dari rumah ke sekolah,” terangnya.

Program naik bus sekolah berbayar botol plastik bekas tersebut menurut Kepala Bidang Penataan Hukum dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Dinas Lingkungan Kota Balikpapan, Rusdianah, mengajak para pelajar untuk ikut berpartisipasi dalam menjaga lingkungan untuk tetap bersih.

“Setiap siswa yang naik bus harus bawa tiga botol plastik bekas. Botol-botol itu kemudian dikumpulkan di bank sampah. Nanti akan diolah saat berada di bank sampah,” tandasnya.

Rusdianah menyebutkan tiga botol itu ukuran sedang atau tanggung. Sedangkan botol besar hanya dua buah saja.

“Botol yang dibawa itu dikumpulkan di sekolah masing-masing. Di sekolah ada bank sampah. Bank sampah sektoral namanya. Nanti setiap satu pekan diambil oleh petugas untuk dibawa ke bank sampah induk,” ujar Rusdianah.

Ia menambahkan botol-botol bekas yang dikumpulkan itu memiliki nilai ekonomis. “Kalau dikumpulkan satu kilogram bisa dihargai Rp2.000. Kemudian hasil penjualan sampah diberikan untuk pengelolaan lingkungan sekolah,” imbuhnya.

Lihat juga...