Badan Karantina Pertanian Lepas Ekspor Senilai Rp4,9 Miliar
CILEGON – Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian, melepas ekspor sejumlah komoditi pertanian ke berbagai negara tujuan. Pelepasan pada Kamis (20/6/2019) tersebut memiliki bernilai Rp4,9 miliar.
Pada pelepasan dilakukan di Badan Karantina Pertanian Kelas II Cilegon, ekspor yang dilakukan PT. Pundi Uniwood Industry, adalah untuk komoditas kayu lapis sebanyak dua kontainer atau sekitar 110,8764 meter kubik (M3), dengan nilai Rp652.234.400. Ekspor tersebut memiliki tujuan Amerika Serikat.
Kemudian ekspor oleh PT. Gumindo Perkasa Industri, untuk komoditas rumput laut sebanyak satu kontainer, dengan jumlah 18 ton dan bernilai Rp458.640.000. Ekspor tersebut bertujuan ke Cina.
Selanjutnya, PT. Tereos FKS Indonesia yang mengekspor corn starch (tepung jagung) sebanyak 15 kontainer. Dengan bobot 277,5 ton nilai yang diekspor ke Philipina tersebut mencapai Rp1.443.650.737. Sementara untuk yang dikirim ke Korea Selatan, mencapai 10 kontainer atau 165 ton dengan nilai Rp891.311.355.
Ekspor tepung gandum dilakukan dilakukan PT. Bungasari Flour Mills sebanyak dua kontainer atau 48 ton, dengan nilai Rp346.632.000 ke Philipina. PT. Cerestar Flour Mills mengekspor tepung gandum sebanyak tujuh kontainer atau 168,1 ton dengan nilai Rp964.792.400 tujuan Papua New Guinea dan tepung terigu, satu kontainer atau 23,8 ton dengan nilai Rp137.194.200 ke Samoa.
Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian, Ali Jamil, menyatakan, trend kebutuhan dunia terhadap produk ekspor Indonesia semakin meningkat. Salah satu produk ekspor asal Banten adalah kayu lapis, rumput laut, corn germ, tepung jagung dan tepung gandum. Negara yang menggemarinya adalah, Cina, India, Amerika Serikat, dan Philipina.
“Komoditas tersebut adalah komoditas wajib periksa karantina, sehingga harus dipastikan keamanannya oleh petugas karantina agar terjamin melalui penerbitan Phytosanitary Certificate (PC),” jelasnya.
Badan Karantina Pertanian (Barantan) merupakan pembuka akses ekspor melalui protokol karantina pertanian dan penjaminan kesehatan atau bebas organisme pengganggu tumbuhan. Karantina menerbitkan Phytosanitary Certificate (Sertifikat kesehatan komoditas ekspor) untuk kegiatan ekspor.
“Kita menargetkan akselerasi ekspor bisa meningkat sebesar 200 persen. Untuk mencapai target diperlukan berbagai upaya kolaboratif pemerintah dengan pemerintah daerah, kelompok tani serta pelaku usaha agar kualitas dan produksi dapat ditingkatkan,” jelasnya.
Kayu lapis asal Banten sudah diminati oleh beberapa negara. Kedepannya, agar lebih banyak lagi volume yang diekspor maka jumlah negara tujuan ekspor diperluas, khususnya pasar di ASEAN dan Asia yang masih sangat terbuka dan prospektif.
Rumput laut asal Kecamatan Pontang Kabupaten Serang, Provinsi Banten adalah komoditas yang pertama kali diekspor melalui BKP Kelas II Cilegon. Sedangkan corn germ, tepung jagung, tepung gandum, bahan bakunya masih berasal dari luar negeri, dan industrinya ada di Cilegon.
Kepala Balai Karantina Pertanian Cilegon, Raden Nurcahyo Nugroho, saat pelepasan ekspor menyatakan, pihaknya berkoitmen memastikan ketentuan Sanitary and Phytosanitary Measures (SPM), dalam hal eksportasi kayu lapis, rumput laut, corn germ, tepung jagung dan tepung gandum terpenuhi.
“Tanpa pemeriksaan dan sertifikasi dari karantina, komoditas ini tidak akan mungkin diekspor. Pelayanan kami 24 jam setiap hari dengan jadwal piket petugas yang memadai, ” jelasnya.
Guna mendorong peningkatan pemasaran ekspor komoditas andalan di Banten, Karantina Pertanian Cilegon menyediakan Klinik Ekspor 24 jam, guna memberikan informasi dan pendampingan. (Ant)