TANGERANG – Pemerintah Kabupaten Tangerang, Banten, mengakui adanya kenaikan harga sembako yang dijual pedagang di pasar tradisional, sejak menjelang hingga memasuki sepuluh hari pertama Bulan Suci Ramadan 1440 Hijriah.
“Kenaikannya masih dalam taraf wajar, dan harganya terjangkau daya beli masyarakat,” kata Sekretaris Daerah Kabupaten Tangerang, Moch Maesyal Rasyid, di Tangerang, Minggu (12/5/2019).
Maesyal mengatakan, dalam laporan aparat Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) setempat yang rutin memantau harga, memang kenaikan itu di antaranya karena pasokan komoditasnya terlambat dan di sentra produksi, selain faktor petani yang belum panen.
Masalah tersebut sehubungan harga kebutuhan pokok hingga selama 10 hari pertama puasa di Pasar Cikupa, Mauk dan Curug serta Balaraja, mengalami kenaikan.
Seperti harga telur yang selama ini Rp19.000 hingga Rp21.000 per kg, naik menjadi Rp24.000 per kg. Demikian pula terigu, semula Rp10.000 menjadi Rp12.000 per kg, minyak goreng curah Rp11.000 per liter menjadi Rp12.500 per liter.
Bahkan, harga bawang merah awalnya Rp30.000, naik sebesar Rp5.000 hingga Rp10.000 per kg.
Kenaikan yang cukup mencolok pada harga bawang putih yang awalnya Rp25.000 sampai Rp30.000, naik menjadi Rp40.000 hingga Rp45.000 per kg.
Untuk harga gula pasir menjadi Rp12.500 per kg, yang awalnya Rp12.000.
Sedangkan untuk harga aneka sayuran seperti tomat, sawi, kangkung, cesin, kol, cabai rawit, masih normal karena pasokan dari sentra produksi lancar ke pasar tradisional.
Namun untuk harga beras berbagai merek, masih dianggap normal karena pasokan dari sentra produksi tidak mengalami hambatan.
Maesyal mengatakan, bila ada kenaikan harga yang mencolok untuk sembako, maka pihaknya mengelar pasar murah agar harganya stabil. (Ant)